Garut, 8/2 (ANTARA) - Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Garut, H. Budiman, SE, M.Si menyatakan, silo gudang penampungan jagung berkapasitas 400 ton di daerahnya, bisa dimanfaatkan untuk mempercepat pengeringan gabah basah.
"Silo itu tepat karena dilengkapi dengan proses pengeringan secara mekanik, untuk mengeringkan jagung juga bisa diperuntukan bagi pengeringan gabah di musim penghujan ini," katanya di Garut, Senin.
Sehingga pengelolaaanya memerlukan aspek kelembagaan yang kapabel dan amanah, selain itu dibutuhkan kesiapan SDM serta modal awal pengoperasian, karena sarana perekonomian yang akan segera tuntas pembangunan fisiknya, di provinsi Jawa Barat hanya terdapat di kabupaten Subang dan Garut, katanya.
Keunggulan perangkat teknologi dari Korea Selatan serta lokasinya yang strategis di desa Dangdeur kecamatan Banyuresmi, 17 km arah utara dari pusat kota Garut ini, masih dihadapkan pada tantangan mengubah kultur petani tradisional menjadi modern.
"Karena itu masyarakat tani di sekitarnya, juga perlu mendapat pemahaman pembangunan silo ini bukan sebagai pesaing melainkan merupakan mitra siapapun termasuk bagi para petani pengumpul maupun tengkulak sekalipun, yang selama ini kerap diasumsikan oleh sebagian petani sebagai dewa penolong," ungkap Budiman.
Dia mengemukakan, pembangunan silo di atas tanah 980 m2 yang bersumber dari dana stimulan Departemen Perdagangan tahun anggaran 2009 senilai Rp2,5 miliar itu, selain dapat menyimpan hasil produksi sebagai persediaan sehingga pada saat yang tepat menjualnya dengan harga layak.
Juga para petani jagung dapat memperoleh pinjaman dana perbankan atau lembaga keuangan lainnya, melalui resi gudang (surat berharga) sebagai penjamin pinjaman, sehingga terhindar dari dampak buruk praktek "ijon" menyusul kabupaten Garut merupakan produsen jagung yang mampu memasok 50 persen kebutuhan Jawa Barat.
Penyimpanan pada silo tersebut, bisa bertahan selama tiga bulan karena diawali dengan proses pengeringan secara mekanik selama delapan jam hingga berkadar air 14 persen, ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan seraya menyatakan kesiapannya menjadi konsultan dan pembina manajemen pengelolaannya.
Sedangkan produk jagung saat terjadi panen raya di kabupaten Garut, mencapai 290 ribu ton dari sekurangnya 41.734 hektare luas tanam, sebagai bahan baku industri makanan serta pakan ternak namun selama ini harganya kerap berfluktuatif berkisar Rp1.350-Rp2.000/kg.
Sebelumnya Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura kabupaten setempat, Ir Tatang Hidayat, MP mengatakan, pihaknya pun tengah mengembangkan sabuk jagung seluas 57.000 hektare pada 12 wilayah kecamatan, termasuk pengembangan di wilayah Garut selatan (Gasela) dengan 90 persen varietas hibrida.
Pemanfaatan varietas lokal hanya 10 persen, yang sebagian kecil produk panennya dijadikan pembibitan untuk kembali dilakukan penanaman, katanya. ***2***
(U.PK-HT/B/J006/B/J006) 08-02-2010 08:38:59
