Warga yang terserang DBD tahun 2009, tercatat 573 kasus, 7 orang diantaranya meninggal dunia. Sedangkan pertengahan Januari 2010, kasus DBD di Cianjur, sudah mencapai 13 kasus.
"Penderita DBD setiap tahun tampak meningkat. Seharusnya pihak Dinkes cepat tanggap dalam hal ini," kata Ketua Patriot Nasional (Patron) Cianjur, Dani Haris Nugraha.
Ia menjelaskan, seiring datangnya musim penghujan, pengembang biakan nyamuk berbahaya itu cepat, sehingga pihak dinkes seharusnya sejak jauh hari telah melakukan antisipasi.
Kadinkes Cianjur, dr Ratu Tri Yuliawati, mengatakan, pihaknya tidak memiliki anggaran untuk melakuan sosialisasi DBD.
"Kami tidak memiliki anggaran untuk sosialisasi DBD, sedangkan untuk fooging, obat dan solar nya pun dikasih dari provinsi," ucapnya.
Tahun 2009, tuturnya, ada dua jenis penyakit yang menempati posisi serangan paling tinggi dengan sebaran merata, DBD dan Chikungunya.
DBD yang paling banyak dengan resiko cukup tinggi. Sehingga, penanganan penyakit DBD lebih mendapat perhatian.
Langkah efektif untuk menangani kedua jenis penyakit itu, dengan cara menjaga kebersihan lingkungan. Sedangkan melalui fogging, kurang efektif karena hanya memberantas nyamuk dewasa tidak sampai mematikan jentiknya.
Fikri
(U.K-FKR/C/Y003/Y003) 13-01-2010 19:21:36
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.