Sedangkan 25,98 persen berkondisi rusak berat, 12,06 persen rusak sedang dan 20,07 persen rusak ringan, ungkap Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Garut H. Komar. M saat ditemui, di Garut, Rabu.
Menurut dia, intensitas kerusakan ruang kelas SD di daerahnya paling parah dan sangat memprihatinkan dibandingkan bobroknya ruang kelas SMP serta SMA/SMK.
Dari 200 SMP dengan 1.906 ruang kelas bagi 89.060 murid, terdapat 81,06 persen yang berkondisi baik, 6,4 persen rusak berat, 5,71 persen rusak sedang dan 6,82 persen berkondisi rusak ringan, ujar Komar.
Sedangkan dari 107 SMA/SMK dengan 961 ruang kelas bagi 48.459 murid, terdapat 76,8 persen berkondisi baik, 4,06 persen rusak berat, 5,2 persen rusak sedang serta 13,94 persen rusak ringan.
Kondisi ruang kelas tersebut juga diperparah oleh rendahnya aksesibilitas pendidikan pada tingkat SD/SMP, seperti masih tingginya angka 'droupt out' (DO) bagi usia wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas), masih rendahnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan, serta belum meratanya pendistribusian tenaga pengajar.
Dalam menanggulangi seluruh persoalan pendidikan di Garut, Disdik mengusung strategi pengembangan 2009-2014, berupa pembangunan SDM berkualitas melalui pendidikan yang ditunjang dengan bentuk "life skills", yaitu kombinasi ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memperbaiki moral peserta didik, demikian Komar. ***3***
John Doddy Hidayat
(U.PK-HT/C/J003/J003) 18-11-2009 11:05:56
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.