Penjabat Wali Kota Sukabumi, Jawa Barat, Kusmana Hartadji mengatakan salah satu upaya paling efektif mengendalikan inflasi di daerah khususnya di wilayahnya dengan memperkuat ketersediaan dan stabilisasi harga pangan.

"Ketersediaan dan harga pangan merupakan salah satu indikator yang paling mempengaruhi inflasi, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo saat rapat koordinasi nasional (rakornas) pengendalian inflasi beberapa hari lalu, ketersediaan dan stabilisasi harga pangan menjadi pembahasan utama dalam kegiatan yang dilakukan secara daring itu," katanya di Sukabumi, Jumat.

Menurut Kusmana, dari hasil pantauan terhadap ketersediaan dan harga pangan yang dijual di pasar-pasar tradisional hingga saat ini masih mencukupi hingga beberapa bulan ke depan dan harganya pun stabil serta pasokan lancar, namun dirinya tidak secara rinci berapa persediaan beras saat ini.

Harus diakui, Kota Sukabumi bukan merupakan daerah penghasil pangan khususnya beras karena keterbatasan lahan, namun untuk produktivitas gabah kering giling (GKG) setiap hektare cukup tinggi yakni rata-rata mencapai 7-8 ton. Di mana lahan pertanian produktif saat ini 1.295 hektare.

Selain itu, untuk produksi beras rata-rata setiap tahunnya mencapai 12 ribu atau hanya bisa memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan masyarakat yang mencapai 37 ribu ton/tahun.

Akan tetapi, Kota Sukabumi tidak pernah mengalami kekurangan apalagi sampai terjadi kelangkaan beras, karena diimbangi oleh pasokan dari berbagai daerah penghasil pangan utama ini seperti Kabupaten Sukabumi, Cianjur dan beberapa daerah lainnya.

Namun demikian, sesuai instruksi Presiden Jokowi, setiap daerah harus mewaspadai terjadinya dampak perubahan iklim apalagi diprediksi ancaman kekeringan terjadi Juli. 

 

Pewarta: Aditia Aulia Rohman

Editor : Yuniardi Ferdinan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2024