Antarajawabarat.com, 27/9 - Nasionalisme dan budaya cinta produk dalam negeri merupakan kunci penting untuk mendorong kuliner Nusantara menjadi brand yang diperhitungkan konsumen di pasar global.

"Nasionalisme dibutuhkan untuk mengangkat brand kuliner nasional, itu perlu semangat bersama untuk tidak terlena dengan merek-merek kuliner global yang telah kadung populer di sini," kata akademisi dan praktisi bisnis kuliner Zulkifli Harahap pada Restauran Outlook 2014 di Bandung.

Zulkifli menyebutkan, konsumen kuliner di Indonesia saat ini telah banyak mengenal produk dan merek global di pasar makanan siap saji. Namun tidak menutup peluang bagi produk lokal untuk masuk dan meraih pasar itu.

Selain inovasi dan produk layanan yang khas, prima juga variasi dan kualitas kuliner sangat menentukan. Indonesia yang memiliki kekhasan kuliner masih sangat potensial untuk memperkuat pasar lokalnya untuk produk-produk kuliner nasional.

"Nasionalisme bagi kuliner dalam negeri harus ditingkatkan lagi, kecenderungan komitmen pemerintah untuk mendukung kuliner Nusantara terus meningkat dan hal itu harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat agar kuliner kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri," kata Zulkifli.

Kekuatan di pasar kuliner nasional, kata dia akan menjadi modal untuk melebarkan sayap menjadi brand makanan siap saji di luar negeri.

"Brand kuliner kita di luar negeri belum banyak masih lebih banyak restoran Thailand atau Malaysia. Itu harus menjadi evaluasi bersama dan saya kira pilihan pada kulinerpun menjadi salah satu ciri nasionalisme," katanya.

Hal senada diungkapkan oleh praktisi kuliber Bondan Winarno yang menyebutkan potensi kuliner Nusantara sangat luar biasa. Di sisi lain perlu diselaraskan dengan perkembangan pasar yang berkembang di dunia yakni makanan siap saji.

"Sepakat bahwa kuliner bisa menjadi sebuah perekat dan nasionalisme bangsa ini, namun perlu dikembangkan untuk mengikuti dinamika. Butuh kreasi dan inovasi untuk mengikuti pasar sehingga membuat semuanya bisa lebih praktis dan mudah," kata Bondan Winarno.

Ia menyebutkan, aktivitas memasak bagi kalangan tertentu sudah dianggap rekreasi dan hoby. Justeru kalangan tersebut, kata Bondan merupakan pasar yang harus ditangkap oleh pelaku usaha kuliner di Indonesia.

"Memasak bagi sebagian orang dari kalangan menengah ke atas dianggap rekreasi dan hobi untuk mengisi liburan. Tentunya mereka membutuhkan yang ringan-ringan dan praktis sehingga menjadi pasar bagi pelaku usaha kuliner," kata Bondan Winarno.

Pada kesempatan itu, Bondan juga mengingatkan bagi pelaku usaha kuliner untuk inovatif dan kreatif dalam menampilkan menu yang disajikannya untuk bisa bertahan dan tetap mendapatkan pasar.

"Pelaku usaha kuliner tidak boleh stagnan, puas dengan kondisi saat ini karena trend di dunia kuliner mudah bergeser, pasar mudah bergeser. Perlu terus ada inovasi produk dengan sentuhan teknologi," katanya.

Sementara itu kegiatan Restoran Outlook 2013 digelar di Bandung yang dihadiri oleh para pelaku usaha kuliner, restoran dan hotel di Jawa Barat. Intinya membuka wawasan para pelaku usaha kuliner terkait potensi bisnisnya ke depan.

Kegiatan tersebut untuk memberikan solusi seputar permasalahan yang dihadapi industri restoran, mulai dari pemahaman konsep, trend restoran hingga kreatifitas restoran.***3***

Pewarta:

Editor : Syarif Abdullah


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2013