Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat mengatakan sumber daya yang ada, seperti personel, jeriken, dan truk tangki siap siaga membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih di daerah terdampak kekeringan saat musim kemarau.

"Kita sudah antisipasi untuk beberapa daerah yang kekurangan air bersih," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tasikmalaya Kurnia Trisna di Tasikmalaya, Senin.

Ia menuturkan Kabupaten Tasikmalaya saat ini sudah memasuki musim kemarau, sehingga jajarannya melakukan pemantauan sejumlah daerah untuk mengetahui ada yang sudah terdampak atau tidak, seperti kesulitan air.

Selama ini, BPBD Kabupaten Tasikmalaya belum mendapatkan laporan dari masyarakat yang kekurangan maupun kesulitan air bersih dampak kemarau tahun ini.

Meski belum ada laporan dari masyarakat, jajarannya tetap memantau perkembangan daerah rawan kekeringan setiap musim kemarau, seperti Desa Cijulang, Kecamatan Cineam dan Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya.

Selain itu, Kecamatan Cikalong, Rajapolah, Desa Cikawunggading dan Ciheras, Kecamatan Cipatujah, Desa Cilangkap,  Kecamatan Manonjaya. Sebagian besar daerah itu selalu terdampak kekeringan saat musim kemarau.

Ia mengungkapkan sebagian besar dampak musim kemarau di daerah itu, berupa kesulitan warga mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan terhadap sektor perkebunan dan sawah seringkali tidak menimbulkan gagal panen.

"Hanya kekurangan air bersih saja, potensi perkebunan, sawah juga ada, tapi tidak menimbulkan gagal panen," katanya.
Upaya BPBD Kabupaten Tasikmalaya dalam menghadapi kemarau, yakni melakukan koordinasi lintas sektoral, terutama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tasikmalaya.

Selain itu, lanjut dia, disiapkan truk tangki untuk mendistribusikan air bersih ke daerah yang dilanda kekeringan, disiapkan ratusan jeriken dan tandon air untuk stok air bersih bagi masyarakat selama beberapa hari.

"Kita koordinasi dengan lintas sektoral, terutama PDAM, penyiapan kendaraan operasional, tangki dua unit milik BPBD, satu unit PDAM, jeriken sekitar 200 buah, torn (tandon) ukuran 1.000 liter sebanyak tiga buah," katanya.

Berdasarkan laporan BMKG, puncak musim kemarau di daerah itu terjadi pada Juli, sedangkan akhir musim kemarau diperkirakan pada September 2023.

"Iya, sesuai siklus, kalau lihat ini sepertinya lebih tinggi dibanding tahun kemarin," katanya.

 

Pewarta: Feri Purnama

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2023