Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meminta kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah untuk memperhatikan asupan gizi anak-anak yang menjadi korban gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

“Kalau ada bencana, banyak anak menjadi korban dan terlantar. Makanya yang paling penting untuk diperhatikan sekarang dari anak-anak kita ini masalah asupan gizinya,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo saat ditemui ANTARA di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Tim bedah dan medis MER-C bantu korban gempa Cianjur

Hasto menuturkan pemantauan asupan gizi pada anak-anak tersebut harus diperhatikan karena musim hujan yang tidak menentu. Dikhawatirkan, anak-anak lebih rentan terkena penyakit dari kondisi lingkungan yang kurang steril dan stabil.

Hal lain yang patut diwaspadai adalah bertambahnya anak-anak stunting akibat pemberian asupan gizi di tenda-tenda pengungsian terganggu dan tidak optimal atau kebanyakan memakan makanan instan seperti mi saja.

“Masalah asupan gizinya kalau di tenda itu pasti mi, tapi kalau saran saya tetap berikan anak-anak makanan sehat seperti telur,” ujarnya.

Hasto mengatakan, para penyumbang yang memberikan bantuan makanan berupa mi atau makanan instan lainnya akan lebih baik jika makanan tersebut diganti dengan telur atau ikan dalam kemasan kaleng seperti sarden. Dengan demikian, asupan DHA dan Omega3 anak bisa terjaga.

“Apalagi makanan yang diproduksi dalam negeri lainnya seperti beras lokal, telur, dan ikan, jadi tidak harus mahal. Sumbangan ikan lele pun tidak apa-apa, itu jauh lebih baik supaya di musim bencana tidak membuat angka stunting meningkat,” ucap Hasto.

Baca juga: PMI Jakbar kirim tenaga medis ke lokasi gempa Cianjur

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti

Editor : Yuniardi Ferdinan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2022