Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria mengatakan bahwa sudah saatnya inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi berkolaborasi dengan dunia industri.

"Bahwa 42,8 persen usulan inovasi berasal dari Tiongkok. Hal ini berkorelasi dengan kemajuan ekonomi dan industri di Tiongkok," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Ahad.

Ia mengatakan bahwa Indonesia dalam konteks indeks inovasi global masih kalah dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, maupun Filipina.

Dia menambahkan hal itu merupakan tantangan bagi Indonesia untuk meraih posisi tertinggi di Asia Tenggara.

"Kita harus berani bermimpi besar dengan mewujudkan praktik masa depan. Adanya kolerasi antara inovasi serta industri dengan perekonomian di suatu negara menjadi penting. Untuk menumbuhsuburkan inovasi Indonesia, perlu dilakukan kolaborasi dengan industri," katanya.

Menurut dia, strategi pengembangan inovasi dan kerjasama industri yang dapat dilakukan adalah adanya sinergi program kerja sama penelitian dan pengembangan lembaga riset pemerintah, lembaga riset swasta, perguruan tinggi dan dunia usaha.

Sebagai contoh, kata dia, di Jepang d imana inovasinya bersinergi dengan industri dalam satu kawasan.

Langkah kedua, menurutnya adalah implementasi teknologi baru melalui percontohan. Ketiga, adanya jaminan risiko dari pemerintah pada implementasi teknologi baru.

"Harus ada jaminan risiko berupa bantuan riset tambahan, sehingga inovasi benar-benar bisa masuk pasar, sehingga penting adanya asuransi inovasi. Selain itu, perlu juga diupayakan adanya insentif bagi industri yang penelitian dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi," kata Arief Satria.

Menristek/Kepala BRIN, Prof Dr Bambang Brodjonegoro, mengatakan kerja sama inovasi perguruan tinggi dan industri sudah menjadi keharusan saat ini.

Ia mengatakan penting bagi Indonesia untuk mendukung penelitian dan pengembangan yang kuat. Selama ini, masih ada gap yang lebar, keduanya asyik dengan dunia masing-masing.

"Seringkali inovasi dari perguruan tinggi dalam bentuk purwarupa tidak siap diterapkan oleh industri. Sementara kebutuhan industri tidak terinfokan dengan baik ke perguruan tinggi," katanya.

Oleh karenanya, Indonesia harus berubah menuju adaptasi kebiasaan baru dengan "less contact economy", yakni kombinasi protokol kesehatan dengan menggerakkan ekonomi. Esensinya adalah dengan teknologi digital.

"Tidak hanya itu agar tidak masuk dalam jebakan 'middle income trap', harus diiringi oleh perubahan mindset. Yang tadinya ekonomi sumberdaya alam menjadi ekonomi inovasi. Tentunya membutuhkan adanya kerjasama antara pemerintah perguruan tinggi dan industri," demikian Bambang Brodjonegoro.

Baca juga: 1.500 siswa SMA ikuti Pesta Sains Nasional yang digelar FMIPA IPB

Baca juga: IPB juara umum kompetisi Satria Data 2020



 

Pewarta: Indriani

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2020