Majalengka (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menyebut kawasan Terasering Panyaweuyan di Kecamatan Argapura menjadi contoh perpaduan sektor pariwisata dengan pertanian bawang merah yang sama-sama menopang perekonomian masyarakat setempat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Majalengka Gatot Sulaeman di Majalengka, Rabu, mengatakan kawasan yang dikenal sebagai destinasi wisata itu merupakan sentra produksi bawang merah jenis “karet” dengan luas lahan sekitar 10 hektare.
Menurut dia, keberadaan lahan pertanian di kawasan wisata tersebut menunjukkan aktivitas pariwisata dapat berjalan beriringan dengan produktivitas pertanian tanpa saling mengganggu.
“Produksi bawang merah dari Panyaweuyan dapat memberikan kontribusi terhadap pasokan bawang di wilayah Majalengka dan sekitarnya,” katanya.
Ia menyampaikan harga bawang merah saat ini masih dalam kategori wajar dan relatif stabil, sekitar Rp22 ribu per kg, sehingga petani tetap dapat menjalankan usaha tanam secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah, lanjut dia, terus mendorong petani untuk menjaga kualitas hasil produksi serta mengatur pola tanam agar tidak terjadi panen bersamaan yang dapat menekan harga di pasaran.
Gatot mengapresiasi konsistensi para petani bawang merah di kawasan Panyaweuyan yang dinilai mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung daya tarik wisata daerah.
Kawasan Panyaweuyan, kata dia, sejak dahulu memang dikenal sebagai lokasi budidaya bawang merah dan bawang daun yang dikelola secara turun-temurun.
Ia menjelaskan musim tanam pertama biasanya dimulai pada November hingga Januari, dengan masa panen berlangsung pada Februari.
“Selanjutnya, musim tanam kedua dilakukan pada Maret hingga Mei dan diperkirakan panen berlangsung pada Juni, sehingga petani dapat melakukan dua kali masa tanam dalam setahun,” katanya.
Sementara itu, Camat Argapura Ridwan Mochamad Ramdhani mengatakan komoditas bawang merah menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat selain sektor wisata yang selama ini menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Ia menuturkan dengan luasan sekitar 10 hektare, potensi produksi bawang merah di Terasering Panyaweuyan dapat mencapai 80 hingga 120 ton, dalam satu kali panen apabila kondisi tanaman optimal.
Pihaknya menilai keberadaan pertanian bawang merah membuat kawasan wisata tersebut tidak hanya bergantung pada kunjungan wisatawan, namun memiliki kekuatan ekonomi dari hasil pertanian.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras para petani di Panyaweuyan. Komoditas bawang merah ini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Kecamatan Argapura selain dari obyek wisata,” ujarnya.
Ridwan menambahkan sentra bawang merah di Kecamatan Argapura tidak hanya berada di Panyaweuyan, tetapi juga tersebar di Desa Sukasari Kidul, Sagara, Teja, dan Sukasari Kaler.
“Kami terus berkolaborasi dengan dinas terkait untuk mendukung sektor pertanian, termasuk melalui pendampingan, infrastruktur, serta perluasan akses pemasaran hasil panen,” katanya.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026