Bandung (ANTARA) - Industri mesin cetak melakukan langkah strategis untuk menavigasi gejolak harga bahan baku di tengah tekanan global akibat berbagai situasi seperti perang di kawasan Timur Tengah.
Kepala Cabang Solo PT Putra Mutiara Jaya H Sutiyo di Bandung, Selasa, mengungkapkan industri saat ini tengah menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku berbasis plastik, seperti stiker, yang melonjak signifikan sebesar 15 hingga 20 persen.
Sutiyo mengakui tekanan global tersebut memaksa perusahaan lebih selektif dalam melakukan impor mesin dari China dan Jepang guna menjaga daya beli konsumen.
"Bukan penurunan permintaan, tapi kami sedang menyesuaikan strategi. Kami harus memastikan produk tetap terserap pasar meski ada kenaikan biaya," kata Sutiyo.
Untuk saat ini, kata Sutiyo, belum ada penurunan permintaan dari konsumen, namun pihaknya juga sedang mengevaluasi kondisi pasar terkait dengan kemungkinan adanya perubahan harga di Mei dan Juni mendatang.
"Saat ini memang belum ada penurunan, tapi ini kan karena ada sisa-sisa impor yang lalu. Tapi kalau nanti untuk impor bulan Mei, Juni dan sebagainya sekitar 15-20 persen, apakah terjadi penurunan atau masih stabil. Ini harus kita pantau dan jaga terus," ucapnya.
Dalam usaha navigasi menghadapi fluktuasi harga bahan baku global itu, PT Putra Mutiara Jaya meluncurkan lini brand mesin cetak teranyar, Sky Digital, di Bandung Convention Center, Selasa ini.
Ekspansi ini menandai ambisi perusahaan dalam menguasai ceruk pasar digital printing yang kian kompetitif. Dengan teknologi digital hybrid, produk ini menawarkan solusi efisiensi mesin multifungsi yang mampu mencetak media roll maupun flat tanpa ketergantungan pada bahan khusus seperti coating.
"Fokusnya bukan sekadar menekan biaya, tapi memberikan fleksibilitas dan hasil maksimal bagi pelaku usaha," ujar Sutiyo.
Sutiyo mengakui kondisi pasar digital printing di 2026 mengalami dinamika. Beberapa sektor seperti stiker otomotif di Jawa Tengah mengalami pertumbuhan signifikan, sementara segmen scene graphic di Jakarta cenderung melambat. Di Bandung sendiri, pasar dinilai lebih merata antara sublimasi dan graphic printing.
Namun memasuki pertengahan April, perusahaan memproyeksikan adanya titik balik konsumsi industri setelah sempat mengalami penurunan pasca-momen hari raya.
Ke depan, PT Putra Mutiara Jaya menargetkan ekspansi Sky Digital ke berbagai kota besar di Indonesia. Setelah Bandung sebagai pusat, Solo dan Surabaya menjadi fokus pengembangan berikutnya, seiring potensi pasar yang dinilai masih sangat terbuka.
Pewarta: Ricky PrayogaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026