Garut (ANTARA) - Banyak cara umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Sebut saja tradisi Grebeg Syawal di Yogyakarta, Pawai Pengon di Jember, Jawa Timur, Ronjok Sayak di Bengkulu, dan Perang Ketupat di Kudus, Jawa Tengah.
Begitu juga ada tradisi ngapungkeun balon atau menerbangkan balon dari bahan kertas berukuran raksasa yang digelar masyarakat Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat saat Hari Raya Lebaran.
Momen ngapungkeun balon itu selalu dinanti masyarakat Kampung Panawuan, seperti pada Idul Fitri 1447 Hijriyah. Setelah shlat Id, warga berbondong-bondong mendatangi lokasi penerbangan balon yang tersebar di beberapa tempat di daerah itu, salah satunya di halaman SDN Sukajaya.
Warga semakin bersemangat karena Lebaran tahun ini kondisi cuaca sangat cerah dengan langit biru, sehingga dipastikan proses penerbangan balon raksasa itu akan sempurna dan terlihat jelas.
Tampak kegembiraan warga yang hadir. Juga raut-raut wajah yang tidak sabar ingin segera melihat balon terbang tinggi. Tidak lama kemudian teriakan ceria saling bersahutan terdengar riuh di lapangan terbuka, menandakan balon sudah mulai terbang.
Ungkapan gembira itu disampaikan seorang warga setempat, Syakira Salwa (17), yang menyaksikan langsung proses menerbangkan balon raksasa. Dia mengaku senang ketika balon mulai terbang dan menjauh dari bumi.
Wanita pelajar itu mengaku momen seperti itu selalu dinanti saat Lebaran karena pada ajang itu bisa berkumpul bersama dengan kerabat dan teman-teman untuk melihat penerbangan balon besar.
"Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu di Hari Raya Idul Fitri, bareng sama teman-teman, saudara-saudara di sini," kata dia.
Bagi masyarakat Panawuan, menerbangkan balon bukan sekadar hiburan, tapi ini sebagai tradisi yang sudah menjadi bagian dari warisan budaya sejak tahun 1960-an yang mempererat kebersamaan warga setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Nilai gotong royong
Menariknya, tradisi ini tidak hanya berlangsung di satu titik. Di beberapa lapangan terbuka di kawasan Kelurahan Sukajaya, balon-balon serupa juga diterbangkan. Seperti Lebaran tahun lalu jumlahnya mencapai 20 balon berterbangan di langit Garut.
Tahun ini warga memperkirakan bisa lebih banyak lagi karena perayaan Lebaran 1 Syawal tidak serentak di hari yang sama, ada yang sudah lebih dulu di hari Jumat, dan ada juga di hari Sabtu. Jadi proses penerbangannya tidak hanya satu hari.
Atep, seorang penggerak tradisi ngapungkeun balon, mengatakan, proses menerbangkan balon itu tidak instan, membutuhkan waktu cukup lama sekitar tujuh hari yang sudah dipersiapkan sejak puasa, dari mulai mengumpulkan dana, membeli bahan baku kertas tipis, lem, dan lainnya.
Setiap momen menerbangkan balon raksasa itu tidak cukup satu atau dua balon, dalam satu tempat bisa menerbangkan lebih dari dua balon, seperti balon yang diterbangkan di halaman SDN Sukajaya siap diterbangkan sebanyak empat balon dengan ukuran diameter 20 meter dan panjang 10 meter.
Mempersiapkan balon tersebut melibatkan banyak orang dari berbagai kalangan usia, semua terlibat dalam setiap prosesnya mulai dari merancang, merakit, hingga menerbangkan balon ke langit-langit di Garut.
Balon yang diterbangkan itu bahan-bahannya dibuat secara iuran. Masyarakat kompak menyumbang untuk mensukseskan tradisi tersebut. Satu balon raksasa bisa menghabiskan dana sebesar Rp700 ribuan.
Selain bertugas membuat balon raksasa itu, ada juga yang mempersiapkan tungku api sumber panas agar balon bisa mengembang, ada yang bertugas memegang setiap sisi balon agar tetap stabil dan bisa tegak ke atas, jadi prosesnya banyak melibatkan warga.
Atep mengungkapkan, momen tersebut menjadi puncak kebahagiaan yang sulit digambarkan masyarakat, ada kebahagiaan tersendiri. Lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi ruang silaturahim yang hangat, dan menjadi ajang hiburan bagi masyarakat.
Tradisi menerbangkan balon raksasa itu bukan sekadar menerbangkan lalu tidak memberi kesan. Bagi warga di sana ada nilai gotong royong yang sampai saat ini terus dijaga setiap momentum Lebaran.
Proses menerbangkan balon raksasa bukan pekerjaan satu atau dua orang, melainkan banyak orang dalam satu kampung. Balon raksasa itu hadir karena adanya tangan-tangan yang saling membantu dan mendukung, tanpa diminta.
Tidak ada sekat sosial dalam kegiatan tersebut, semua membaur, bekerja sama, dan merayakan kebersamaan tanpa memandang latar belakang. Semua warga hadir berkumpul, bahkan banyak juga warga dari luar yang datang hanya untuk menyaksikan tradisi unik itu.
Atep menegaskan, momentum menerbangkan balon itu memiliki nilai yang kuat bagi masyarakat setempat yakni bersama-sama dalam menjaga kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial dalam satu kampung yang sampai saat ini terus dijaga.
"Nilainya sebagai ajang silaturahmi masyarakat berkumpul di sini, sekaligus menjadi hiburan di Hari Raya Lebaran," kata Atep.
Daya tarik wisata
Pengakuan atas daya tarik tradisi ini pun datang dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut yang menilai ngapungkeun balon bukan sekadar tradisi warga Panawuan, melainkan ada potensi wisata kearifan lokal yang memiliki kekuatan untuk bisa menarik wisatawan.
Kepala Disparbud Garut, Beni Yoga Gunasantika mengatakan, kegiatan yang tumbuh dari masyarakat ini memiliki nilai otentik yang tidak dibuat-buat, sehingga justru menjadi daya tarik bagi masyarakat luar Garut atau yang mudik ke Garut bisa menyaksikan atraksi menerbangkan balon.
"Kami memandang kegiatan ini sebagai potensi atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang sangat menarik dan memiliki daya tarik kuat," kata Beni.
Tradisi itu rutin digelar setiap Lebaran di Kampung Panawuan sebagai ekspresi kegembiraan masyarakat merayakan Hari Raya Idul Fitri setelah menjalani bulan Ramadhan, dan lebih dari itu mencerminkan kebersamaan yang kuat.
Antusiasme yang terlihat setiap tahun menjadi bukti bahwa tradisi ini memiliki magnet tersendiri. Tidak hanya warga lokal, tetapi juga bagi warga Garut yang pulang dari perantauan hingga pengunjung dari luar daerah ikut larut dalam suasana bergembira itu.
Menurut Beni, tradisi lokal masyarakat Panawuan itu menjadi modal penting untuk terus dikembangkan sebagai agenda wisata tahunan yang lebih terstruktur, dan harus didukung karena atraksi tersebut selama ini berlangsung tertib, aman, dan tidak menimbulkan gangguan.
"Ini merupakan wujud nyata kegembiraan dan kebersamaan warga pasca Idul Fitri. Kita melihat antusiasme yang luar biasa, ini adalah ekspresi budaya dan tradisi yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri," katanya.
Adanya tradisi itu menunjukkan bahwa warga Panawuan menilai Hari Raya Lebaran bukan hanya tentang hidangan lezat dan pakaian baru, tapi tentang kegembiraan, kebahagiaan yang sederhana yakni menerbangkan balon, dan tentang tradisi kebersamaan yang harus dijaga dari generasi ke generasi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: "Ngapungkeun" Balon, cara warga Garut merawat kebersamaan saat Lebaran
Pewarta: Feri PurnamaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026