Kota Bandung (ANTARA) - Sorak ribuan bobotoh (pendukung) pecah ketika bek Persib Bandung Julio Cesar muncul sebagai pahlawan kemenangan lewat gol pada menit 90+7 saat menghadapi PSM Makassar, Minggu (17/5) malam.

Gol di penghujung laga itu bukan hanya memastikan kemenangan bagi Maung Bandung, tetapi juga menjaga asa Persib untuk  menorehkan sejarah tiga kali berturut-turut menjadi  juara  kasta tertinggi sepak bola di Indonesia.

Malam itu Bandung benar-benar membiru. Euforia kemenangan mengalir di setiap sudut kota, mulai dari gang-gang kecil, warung kopi pinggir jalan, hingga Jembatan Pasupati. Suara klakson motor tiada henti dibunyikan.

Di tengah kerumunan dan sorak sorai euforia saat itu, seorang anak kecil duduk di pundak ayahnya sambil menggenggam syal bertuliskan Persib Bandung. Ia benar-benar terlihat bahagia.

Kecintaan kepada Persib bahkan lahir sebelum seorang anak benar-benar memahami arti sepak bola.

Rasa itu tumbuh lewat cerita sang ayah, suara riuh tribun stadion hingga seragam berwarna biru yang terus diwariskan.

Di Bandung dan Jawa Barat, mendukung Persib bukan sekadar soal pertandingan 90 menit. Kecintaan itu hidup dalam cerita keluarga, diwariskan dari generasi ke generasi, dari kakek kepada ayah, lalu kepada anak dan cucu.

Pengamat sejarah Bandung Hevi Fauzan menilai kelahiran Persib tidak bisa dilepaskan dari sejarah masyarakat pribumi pada masa kolonial Belanda.

Menurut Hevi, pembentukan Persib bermula dari sekumpulan klub-klub pribumi kecil di Bandung yang kemudian bersatu menjadi sebuah bond atau klub kota.

“Jadi Persib itu lahir dari klub-klub pribumi kecil yang kemudian membentuk satu klub besar yang mewakili kota,” kata Hevi.

Nasionalisme

Menurut Hevi, sepak bola pada masa Hindia Belanda tidak hanya menjadi olahraga semata, melainkan juga sarat dengan semangat nasionalisme.

Saat itu, masyarakat pribumi berupaya menyaingi dominasi kelompok Eropa yang menempati strata sosial tertinggi dalam struktur masyarakat kolonial.

“Orang-orang pribumi ketika bermain bola ingin menyaingi hegemoni orang-orang Eropa. Maka terbentuklah klub-klub sepak bola yang kemudian berujung pada pembentukan PSSI,” ujarnya.

Di Bandung, semangat itu kemudian melahirkan Persib yang akhirnya menjadi representasi masyarakat pribumi Sunda di tingkat nasional.

Hevi menilai kedekatan emosional masyarakat Jawa Barat terhadap Persib lahir karena klub itu dianggap sebagai representasi identitas orang Sunda.

“Orang-orang Bandung dan Jawa Barat akhirnya menganggap Persib sebagai wakil mereka di kancah nasional. Jadi dalam persaingan nasional itu suara mereka diwakili oleh Persib,” kata Hevi.

Karena itu, Persib tidak hanya dipandang sebagai klub sepak bola, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Jawa Barat.

Kecintaan itu kemudian tumbuh menjadi kultur yang diwariskan secara alami di dalam keluarga.

“Dari kakek ke ayah, lalu ke saya, lalu ke anak saya. Itu terus terjadi,” kata Hevi.

Ia mengingat bagaimana dirinya pertama kali mengenal Persib dari sang ayah. Saat itu, ayahnya rela pulang terlebih dahulu ke rumah hanya untuk mengajaknya menonton pertandingan di Stadion Siliwangi.

“Kalau saya dulu diajak ke stadion mah senang saja. Walaupun belum ngerti bola, tapi di stadion banyak jajanan, banyak pedagang. Jadi awalnya saya senang jajanannya dulu,” katanya.

Seiring waktu, pengalaman itu berubah menjadi kecintaan mendalam kepada Persib. Yang paling ia ingat, kecintaan itu tumbuh secara natural tanpa paksaan.

“Ayah saya tidak pernah bilang: Kamu harus dukung Persib. Tidak pernah begitu. Tapi dari pengalaman itu, secara naluri saya ikut mendukung Persib karena ayah saya juga mendukung Persib,” ujarnya.

Cerita serupa juga hidup dalam perjalanan panjang Jakob Kusnadi (69), bobotoh asal Cimuncang Bandung, yang telah mendukung Persib sejak era perserikatan.

Bagi Jakob, mendukung Persib bukan perkara uang atau keadaan. Pada 1990-an, ia bahkan rela naik pohon bersama tukang becak demi menyaksikan pertandingan Persib secara langsung di Stadion Siliwangi.

Ia masih mengingat deretan pemain yang membesarkan kecintaannya kepada Persib, mulai dari Ajat Sudrajat, Robby Darwis, hingga kiper Sobur.

Ketika Persib menjuarai kompetisi Liga Indonesia 1994, Jakob ikut merayakannya dengan penuh euforia di Jakarta kala itu.

“Saya muter satu hari penuh, motor sampai hampir mogok. Tapi tetap, namanya cinta Persib. Senangnya susah dibayangkan,” ujarnya.

Kini, puluhan tahun berlalu, kecintaan itu tetap hidup dan diwariskan kepada anak-anak hingga cucunya. Bagi Jakob, Persib sudah menjadi bagian dari hidup yang sulit dipisahkan.

“Minggu kemarin saya bawa tiga cucu ke stadion. Jadi memang ini budaya bagi saya dan keluarga,” katanya.

Di berbagai sudut Jawa Barat, anak tumbuh bersama cerita kemenangan Persib, suara riuh tribun stadion, hingga perjalanan menapaki stadion bersama orang tua mereka.

Tradisi itu terus bertahan meski zaman berubah. Dulu, masyarakat mengenal Persib lewat siaran radio dan koran. Kini generasi muda mengikuti perkembangan klub melalui media sosial. Namun satu hal tetap sama. Rasa cinta itu tetap diwariskan.

Bahkan di tengah modernisasi sepak bola Indonesia, Persib tetap menjadi ruang emosional bagi masyarakat Jawa Barat untuk merasa terhubung satu sama lain.

Bagi sebagian orang, Persib adalah hiburan. Namun bagi masyarakat Jawa Barat, Persib adalah identitas.

“Saya meyakini, bobotoh bukan sekadar suporter. Mereka adalah penafsir hidup lewat sepak bola,” kata Jakob.

Dan di Tanah Pasundan, cinta itu tampaknya akan terus diwariskan. Dari tribun Stadion Siliwangi di masa lalu hingga riuh Stadion Gelora Bandung Lautan Api hari ini.

Persib hidup bukan hanya di lapangan hijau, tetapi juga di dalam kenangan dan cerita yang terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Persib Bandung dan cinta yang terus diwariskan

Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026