Kupang (ANTARA) - Puluhan guru sekolah dasar di Kabupaten Sumba Barat, NTT meluncurkan modul ajar literasi dan numerasi berbasis budaya lokal untuk memperkuat pembelajaran siswa melalui pendekatan kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Wakil Bupati Sumba Barat Thimotius Tede Ragga di Waetabulla Kamis, mengatakan pendekatan pembelajaran yang berakar pada kehidupan dan budaya lokal penting untuk membantu siswa memahami materi pelajaran secara lebih kontekstual.
“Bukan hanya modul yang dihasilkan, tetapi juga proses belajar yang dijalani para guru. Guru tidak hanya mengajar dari buku, tetapi kembali mengenali kehidupan nyata murid-muridnya,” katanya.
Menurut dia, guru perlu hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat agar mampu memahami budaya, pekerjaan, serta keseharian anak-anak sehingga proses pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.
Lebih lanjut dijelaskan, modul ajar tersebut merupakan hasil pengembangan guru melalui program pelatihan dan pendampingan yang difasilitasi oleh Sokola Institute bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sumba Barat dengan dukungan dari William & Lily Foundation.
Dalam program tersebut, sebanyak 92 guru kelas 1 hingga kelas 3 sekolah dasar mengikuti pelatihan untuk menggali konteks sosial, budaya, dan lingkungan kehidupan anak sebagai sumber belajar.
Dari jumlah tersebut, 40 guru kemudian mendapatkan pendampingan intensif untuk menyusun modul ajar yang mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam pembelajaran literasi dan numerasi.
Program Ta Hakola Huba diarahkan untuk mendorong inovasi pembelajaran di sekolah dasar melalui penguatan literasi dan numerasi yang disesuaikan dengan konteks lokal.
Modul yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi referensi pembelajaran yang terus dikembangkan oleh para guru di Kabupaten Sumba Barat guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar di daerah tersebut.
Pewarta: Kornelis KahaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026