Mengapa banyak orang begitu terobsesi menjadi guru besar, hingga nekat melakukan plagiasi, menggunakan jasa joki, bahkan “membeli gelar” ini (sinyalir Ichsanuddin Noorsy pada 2025)? Dalam struktur masyarakat kita, sebutan guru besar memang memberikan symbolic capital yang sangat tinggi.
Seseorang ingin tampil dengan status profesor, padahal secara kualitas riset, apalagi kualitas pribadi tidak memiliki penguasaan state of the art yang memadai, lebih-lebih kebesaran jiwa atau etika. Ia mengalami yang dalam psikologi sosial disebut disonansi, dan berusaha menutupi kesenjangan ini, yaitu dengan melakukan perilaku peremehan akan suara batin dan masyarakat, trivialisasi rasa malu, sekaligus perilaku kompensatoris dengan cara-cara manipulatif agar tetap terlihat layak menyandang status tersebut. Terbentuklah diri profesor yang palsu.
Lebih celaka lagi, ada pengaruh lisensi moral. Ketika seseorang sudah merasa mencapai puncak “guru besar”, ia merasa telah memiliki “tabungan moral” yang cukup, sehingga merasa boleh melanggar aturan moral (ingat juga sejumlah kasus, mulai dari kekerasan seksual, hingga korupsi akademik oleh profesor), atau merasa tak perlu lagi dikritik, bahkan sebaliknya, merasa pendapatnya harus selalu dibenarkan. Hal inilah yang mengentalkan feodalisme di dunia akademik kita.
Jika kita melepaskan asosiasi “guru” dari “profesor”, kita sedang melakukan demistifikasi, yaitu mengembalikan profesor ke bumi sebagai manusia akademik biasa yang bisa salah dalam sains (asalkan tidak bohong), yang bekerja berbasis data dan metodologi, bukan seorang pandito, resi yang tak tersentuh.
Demistifikasi
Pewarta: Juneman Abraham *)Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026