Namun di sisi lain, bantalan eksternal Indonesia dinilai tetap kuat di mana cadangan devisa meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS pada Desember 2025, memberikan penyangga yang kuat terhadap volatilitas eksternal dan mendukung stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian keuangan global.

Terpisah, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman juga memproyeksikan hal serupa.

Menurut dia, keputusan menahan BI-Rate merupakan opsi paling konsisten dengan kondisi data saat ini.

“Dalam situasi nilai tukar yang masih tertekan, ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi sangat terbatas karena berpotensi memperlebar tekanan pada rupiah,” kata dia.

Rizal memandang bahwa peluang penurunan BI-Rate tetap ada untuk sepanjang 2026, tetapi sangat bersyarat yakni stabilitas nilai tukar harus terjaga, inflasi tetap rendah dan terkendali, serta risiko fiskal tidak meningkat.

“Dengan demikian, fokus kebijakan moneter di fase awal 2026 lebih tepat diarahkan pada penguatan stabilitas makro, bukan pada stimulus yang terlalu dini,” ujar dia.

Sementara Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kemungkinan yang kecil bagi bank sentral untuk opsi kenaikan suku bunga karena menimbulkan biaya besar bagi pemulihan ekonomi.

Sehingga, pilihan paling seimbang yakni menahan suku bunga sambil memperkuat stabilisasi nilai tukar dan komunikasi kebijakan.

“Pemangkasan suku bunga pada saat kurs rapuh berisiko dibaca pasar sebagai toleransi terhadap pelemahan, sehingga dapat memperbesar tekanan lanjutan, dan pelemahan ini membuat ruang penurunan suku bunga menjadi sangat sempit dalam waktu dekat,” jelas Josua.

Untuk proyeksi suku bunga sepanjang 2026, menurut Josua, arahnya sangat bergantung pada dua hal yaitu stabilitas rupiah dan arah suku bunga AS.

Jika tekanan kurs mereda, inflasi tetap terkendali, dan arus dana membaik, ruang penurunan suku bunga bisa terbuka bertahap pada paruh kedua 2026 untuk mendukung pertumbuhan.

Namun, jika kekhawatiran fiskal dan isu kredibilitas kebijakan terus menahan kepercayaan pasar, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga lebih lama agar daya tarik aset rupiah tetap kuat dan volatilitas kurs tidak berubah menjadi tekanan inflasi.

Baca juga: Nilai tukar rupiah menguat seiring ancaman tarif Trump kepada Eropa

 

Baca juga: Analis: Nilai tukar rupiah dapat membaik jika ada kepastian arah kebijakan


Baca juga: Nilai tukar Rupiah pada Rabu pagi menguat jadi Rp16.955 per dolar AS



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah dalam tren melemah, BI diproyeksikan tahan BI-Rate bulan ini



Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026