Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan mitigasi pemerintah untuk membuat kurs rupiah membaik ialah memulihkan kepercayaan melalui kepastian arah kebijakan dan penguatan sumber valas.

"Mitigasi yang paling efektif dari sisi pemerintah intinya adalah memulihkan kepercayaan melalui kepastian arah kebijakan dan penguatan sumber valas,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah saat ini sudah berkisar Rp16.900-an atau hampir menyentuh Rp17 ribu per dolar AS.

Menurut dia, pemerintah perlu mengunci narasi fiskal yang kredibel dan mudah diverifikasi. Mulai dari target defisit, sumber pembiayaan, prioritas belanja, hingga rambu pengaman apabila penerimaan meleset, yang harus dijelaskan jernih dan konsisten.

Ini disebabkan pasar cenderung tak suka ketidakpastian dan membutuhkan informasi risiko yang terbuka agar bisa menghitung langkah ke depannya.

Berikutnya, pembiayaan utang harus dikelola secara terukur agar tak menambah kepanikan pasar, yakni dengan pengaturan jadwal penerbitan, strategi memperluas basis investor jangka panjang, serta koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga likuiditas rupiah tetap cukup tanpa memicu spekulasi nilai tukar.

Kemudian, desain kebijakan devisa hasil ekspor dengan memberlakukan skema yang tetap mendorong repatriasi dan ketersediaan valas di pasar tanpa memberatkan arus kas eksportir.

Terakhir adalah menekan permintaan valas yang tak produktif dengan langkah praktis.

Beberapa di antaranya yaitu memperkuat substitusi impor energi dan pangan, memastikan belanja pemerintah yang memiliki banyak komponen impor dijadwalkan lebih bertahap, dan mendorong pelaku usaha melakukan lindung nilai yang wajar agar lonjakan kebutuhan dolar tak terjadi serentak.

Josua menilai peluang rupiah mendekati Rp17 ribu karena tekanan datang bersamaan dari sisi global dan domestik.



Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026