Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore ditutup melemah seiring aksi profit taking (ambil untung) pelaku pasar di tengah minimnya katalis baru.
 

IHSG ditutup melemah 52,03 atau 0,58 persen ke posisi 8.884,71. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,43 poin atau 0,17 persen ke posisi 866,55.

“Pelemahan IHSG di akhir sesi lebih dipengaruhi oleh aksi profit taking yang agresif setelah indeks menyentuh area psikologis penting (9.000),” ujar Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Di tengah minimnya katalis baru, Reydi mengatakan pelaku pasar cenderung mengambil sikap defensif, terutama menjelang ketidakpastian arah pasar global dan kehati-hatian terhadap pergerakan lanjutan suku bunga global.

Dari sisi sektoral, Ia melanjutkan bahwa tekanan terbesar datang dari saham-saham berisiko tinggi dan bersifat spekulatif, khususnya di sektor energi dan pertambangan, yang terkoreksi cukup dalam.

"Koreksi pada saham-saham ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan IHSG secara keseluruhan," ujar Reydi

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 2,81 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor transportasi & logistik yang naik masing-masing sebesar 2,54 persen dan 2,26 persen.

Sedangkan, lima sektor melemah yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 0,94 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor keuangan yang turun masing-masing sebesar 0,81 persen dan 0,64 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MSKY, DKHH, KPIG, APLN dan SOCI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni HILL, NRCA, IRSX, DOOH dan PBSA.



Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026