PLTB di Kecamatan Sedong, kata dia, disebut sebagai fasilitas pembangkit setrum pertama di kawasan pesisir utara Jawa Barat.

Langkah lain yang kini sedang digarap pemerintah daerah, yaitu rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Kabupaten Cirebon, berkapasitas 10 megawatt.

Dalam proyek ini, Pemkab Cirebon menjajaki kerja sama dengan sektor swasta untuk mengolah hingga 600 ton sampah per hari.

Bupati Cirebon Imron mengatakan fasilitas ini diperkirakan dapat mengolah setengah dari total sampah harian daerahnya, yang mencapai 1.200 ton per hari.

Proyek ini diawali dengan studi kelayakan sebelum memasuki tahap konstruksi. Bila semua proses berjalan lancar, pembangunan ditargetkan rampung dalam dua tahun ke depan.

“Proyek ini dapat mengubah wajah pengelolaan sampah, yang selama ini hanya berakhir di tempat pembuangan akhir,” tegasnya.

Masih terkait sampah, pemerintah daerah sangat serius untuk merealisasikan penerapan teknologi refuse derived fuel (RDF).

Fasilitas RDF digunakan untuk menyulap hasil olahan sampah, sebagai bahan bakar alternatif untuk industri semen. Kapasitas pengolahannya yang semula 50 ton per hari ditingkatkan menjadi 100 ton.

Adapun saat ini, lahan sekitar satu hektare telah disiapkan dan penyusunan Detail Engineering Design (DED) untuk proyek tersebut sedang dikebut.

Berbagai upaya tadi sejatinya bermuara pada satu hal, yaitu agar penggunaan energi ramah lingkungan tidak berhenti pada aspek perencanaan.

Jika sekolah kecil di Cirebon bisa menggabungkan pendidikan, lingkungan dan energi lestari, mengapa tidak di tempat lain?

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mematri gerakan energi lestari dari sekolah berdikari

Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026