"Kami ini tidak bisa memanen garam yang sudah diolah, karena hujan terus mengguyur wilayah Cirebon," kata petani garam Insyaf Supriadi di Cirebon, Minggu.
Menurut dia, di tahun 2017 ini para petani hanya sekali memanen garam dan itu pun hasilnya sangat kurang dan untuk sekarang walaupun sudah memasuki musim kemarau, namun masih ada hujan.
Insyaf mengatakan kondisi kali ini membuat para petani garam semakin susah, meskipun harga garam mahal, namun mereka tidak bisa produksi karena kondisi cuaca.
"Selama dua bulan kita sudah fokus mengolah garam, namun kami tidak memperoleh hasilnya," ujarnya.
Ia mengaku prihatin atas kondisi sekarang ini, para petani tidak bisa memproduksi garam, begitu juga para Industri Kecil Menengah (IKM) pengolah garam yang banyak gulung tikar.
"Sementara Pemerintah tidak bisa membantu. Dulu ketika produksi garam banyak malah impor, membuat harga garam petani anjlok. Sekarang tidak bisa memberikan solusi pada IKM," kata Insyaf yang pernah menjadi Ketua Ikatan Petani Garam Indonesia (IPGI) Kabupaten Cirebon.
Pelaku industri pengolahan garam, Sujati mengatakan sebanyak 25 Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Cirebon bagian timur yang bergerak di bidang pengolahan garam ditutup atau gulung tikar karena kesulitan pasokan bahan baku dari petani.
"Kira-kira sudah ada 25 IKM pengolahan yang terlebih dahulu gulung tikar, karena tidak ada pasokan bahan baku," kata.
Pewarta: Khaerul IzanEditor : Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.