Bandung (ANTARA) - Dalam setiap laporan gempa bumi, masyarakat kerap mendengar dua jenis skala yang digunakan untuk menggambarkan kekuatan dan dampak gempa, yaitu skala magnitudo dan skala MMI. Keduanya sering disalahartikan sebagai hal yang sama, padahal memiliki fungsi dan cara pengukuran yang berbeda.
Skala magnitudo digunakan untuk mengukur besarnya energi yang dilepaskan oleh sumber gempa di dalam bumi. Nilai magnitudo dihitung secara ilmiah berdasarkan data dari alat pencatat getaran bumi atau seismograf.
Hasil pengukuran ini bersifat kuantitatif dan berskala logaritmik, artinya setiap peningkatan satu angka pada skala magnitudo setara dengan peningkatan energi sekitar 32 kali lipat. Misalnya, gempa bermagnitudo 6 melepaskan energi sekitar 32 kali lebih besar dari gempa bermagnitudo 5.
Magnitudo sendiri terdiri dari beberapa jenis, namun yang umum digunakan adalah Magnitudo Moment (Mw) merupakan pengembangan dari Scala Richter yang dulu sering kita kenal, skala ini dianggap lebih akurat karena memperhitungkan luas patahan, pergerakan batuan, dan kekuatan gesekan. Nilai magnitudo ini biasanya diumumkan oleh lembaga resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setelah dilakukan analisis data dari sejumlah stasiun seismik.
Sementara itu, skala MMI atau Modified Mercalli Intensity adalah skala yang digunakan untuk menggambarkan intensitas atau dampak gempa yang dirasakan oleh manusia, serta efeknya terhadap lingkungan dan bangunan di permukaan bumi. Skala ini bersifat subjektif karena didasarkan pada laporan masyarakat dan observasi di lapangan. Skala MMI terdiri dari 12 tingkatan, mulai dari I (tidak terasa) hingga XII (kerusakan total).
Contohnya, pada tingkat MMI III, gempa dirasakan nyata di dalam rumah, seolah ada truk besar yang lewat. Sedangkan pada tingkat MMI VI, banyak orang yang terkejut dan berlarian keluar rumah, serta mulai terjadi kerusakan ringan pada bangunan. Semakin tinggi tingkat MMI, semakin besar dampak gempa terhadap permukaan bumi dan manusia.
Perbedaan utama antara skala magnitudo dan skala MMI terletak pada objek yang diukur. Skala magnitudo fokus pada energi di sumber gempa, sedangkan skala MMI menggambarkan efek gempa di permukaan bumi. Oleh karena itu, dalam satu peristiwa gempa bumi, bisa saja nilai magnitudo tetap, tetapi intensitas MMI berbeda-beda tergantung lokasi dan kondisi tanah.
Memahami perbedaan dan cara kerja kedua skala ini penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana gempa. Informasi ini juga membantu dalam penilaian risiko dan mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan gempa seperti Indonesia.
