Bandung (ANTARA) - Di tengah geliat seni modern di kawasan Braga, Rumah Seni Ropih tetap konsisten sebagai galeri seni keluarga yang telah berdiri lintas tiga generasi dan sejak tahun 2000 dikelola oleh Gina Puspitasari.
Galeri ini bukan hanya tempat memamerkan karya seni, tetapi juga, tetapi juga ruang hidup bagi nilai budaya dan sejarah keluarga seniman yang sudah dimulai sejak era kakek dari Ibu Gina. Warisan terus dijaga dan diteruskan hingga ke anak-anaknya hari ini.
“Nama Ropih diambil dari nama bapak saya. Dulu galeri ini diwariskan dari kakek ke ayah saya, dan sekarang saya teruskan,” ungkap Gina di Bandung, Selasa.
Ia menekankan bahwa Rumah Seni Ropih tidak lahir dari konsep bisnis semata, tapi dari idealisme berkesenian dalam keluarga.
Di dalam galeri ini, pengunjung bisa menikmati aliran seni, mulai dari naturalis, realis, abstrak, hingga kontemporer. Hampir seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil tangan keluarga sendiri, menjadikannya ruang yang sangat personal.
“Lukisan-lukisan di sini mayoritas dari keluarga besar saya, hampir 75 persen,” kata Gina. “Ini bukan cuma galeri, tapi rumah bagi semangat seni kami yang diturunkan dari generasi ke generasi,” katanya.
Meski banyak galeri baru bermunculan di Braga, Gina tidak merasa tersaingi. Justru ia menyambut positif dinamika seni kawasan ini. “Kita tidak melihat itu sebagai persaingan. Justru harapan kami Braga bisa seperti Ubud di Bali atau Malioboro di Jogja,” ujarnya.
Menurutnya, keunggulan Rumah Seni Ropih terletak pada akar sejarah dan keaslian identitas. Banyak yang berdagang lukisan, tapi kami di sini dilahirkan dari keluarga seniman. Itu bedanya,” tutur Gina. Ia menambahkan bahwa konsistensi dan idealisme adalah kunci utama galeri ini tetap eksis hingga kini.
Galeri ini tidak memungut biaya masuk, tetapi kunjungan harus melalui janji terlebih dahulu demi menjaga kenyamanan dan keamanan karya. “Kami terbuka untuk pelajar, mahasiswa, atau siapa pun yang ingin belajar, asal ada komunikasi dulu,” jelasnya.
Lukisan-lukisan yang dijual memiliki rentang harga dari Rp50 ribu hingga ratusan juta rupiah. Namun, tidak semua lukisan dijual, karena beberapa merupakan karya idealis yang dianggap sebagai warisan pribadi keluarga.
“Bagi saya seni itu obat. Kalau dilakukan dengan jiwa, bisa jadi penyembuh,” ujar Gina. Ia berharap Rumah Seni Ropih bisa terus hidup, menjadi ruang seni yang membumi, dan diwariskan hingga ke cucu-cucunya.
