"Harus ada program khusus, Jabar ini darurat pendidikan SMA, karena banyak siswa SMP yang mau melanjutkan ke SMA tidak bisa, karena ruang kelasnya tidak ada," kata Kepala Bappeda Jawa Barat Denny Juanda, di Gedung Sate Bandung, Senin.
Ia mengatakan, saat ini angka partisipasi kasar siswa SMA/SMK di Jawa Barat tergolong rendah yakni dari jumlah lulusan SMP di Jawa Barat, yakni hanya 51 persen yang meneruskan ke SMA/SMK.
Jumlah tersebut, kata dia, berada di bawah rata-rata nasional dan tingginya siswa lulusan SMP yang tidak bisa meneruskan ke SMA/SMK dikarenakan berbagai faktor, seperti kekurangan ruang kelas serta guru.
"Oleh karena itu, Pemprov Jabar akan segera membangun sekolah baru hingga ke daerah pelosok-pelosok di Jawa Barat," kata dia.
Hal tersebut, menurut dia, sangat penting untuk memudahkan warga mengakses pendidikan di tingkat SMA/SMK.
"Saat ini kami sedang memetakan daerah mana saja yang tidak ada SMA/SMK. Nantinya akan dibangun SMA/SMK di daerah yang banyak penduduk," katanya.
Dikatakan dia, rendahnya angka partisipasi kasar SMA di Jabar ini menjadi persoalan serius dan kalau tidak ditindaklanjuti, program wajib belajar sembilan tahun tidak akan tercapai.
"Jadi alokasi dana pendidikan itu harus 20 persen. Di luar bos ada tiga triliun rupiah. Pakai ke situ, hentikan pekerjaan yang tidak strategis. Ini penting," kata Denny.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan saat ini pihaknya terus mengupayakan pembangunan gedung baru untuk tingkat SMA di Jawa Barat.
Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Menteri Kebudayaan dan Pendidikasan Dasar dan Menengah Anies Baswedan agar bisa meningkatkan angka partisipasi kasar tingkat SMA.
"Targetnya mudah-mudahan, setelah saya pensiunan sebagai Gubernur Jabar sudah bisa mencapai 95 persen," kata Aher.
Pihaknya membenarkan bahwa Pemprov Jabar saat ini sedang memetakan daerah mana saja di Jawa Barat yang akan menjadi tempat pembangunan sekolah baru.
"Petanya banyak, Selatan dan Utara Jabar banyak yang kurang. Kita selama ini belum memetakan secara utuh. Semua blank spot akan dibangun SMA baru. Tahun 2015 pendataan, 2016 ditargetkan selesai dan bisa digunakan," kata dia.
Ia menuturkan, terkait masih rendahnya angka partisipasi kasar di Jawa Barat tersebut karena dikoreksi seluruhnya yang awalnya 71 persen.
"Tentunya semua koreksi hitung-hitungannya semua provinsi. SMP dikoreksi dari 98 jadi 95 persen. Cukup terkoreksi juga yang SLTA," kata dia.***4***
Ajat S
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.