"Tekanan inflasi tahunan (yoy) di Jabar disumbang dalam dua bulan terakhir, November dan Desember yang mengalami peningkatan indek harga konsumen yang signifikan sebagai dampak kenaikan harga BBM bersubsidi," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar Dody Gunawan Yusuf di Bandung.
Sementara itu inflasi Jabar pada Desember 2014 tercatat sebesar 2,14 persen. Angka inflasi Jabar masih di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,46 persen.
Inflasi Desember 2014 dipicu oleh naiknya harga barang/jasa yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada beberapa kelompok pengeluaran.
Namun demikian, bila jika dibandingkan dengan besarnya inflasi Januari-Desember di Jabar dalam kurun waktu 2010-2014, inflasi gabungan tertinggi terjadi pada tahun 2013 yakni sebesar 9,15 persen.
Ia menyebutkan, inflasi 2010 Tahun 2010 6,62 persen, kemudian terendah terjadi pada tahun 2011 sebesar 3,10 persen. Tahun 2012 mengalami inflasi 3,86 persen dan 2014 7,41 persen.
Dengan demikian, inflasi di Jabar melebihi target inflasi di provinsi itu yakni 4 persen plus minus satu. Kenaikan harga BBM bersubsidi memicu lonjakan inflasi di provinsi itu.
"Kenaikan harga BBM bersubsidi membuat kenaikan harga barang dan jasa, terutama pada sektor transportasi. Namun dengan adanya penurunan harga BBM bersubsidi beberapa hari lalu dipastikan akan berpengaruh terhadap inflasi Januari 2015," kata Doddy.
Sementara itu pada Desember 2014, Kota Tasikmalaya adalah yang tertinggi mengalami inflasi sebesar 2,44 persen.
Inflasi pada Desember 2014 dipicu oleh naiknya harga barang atau jasa pada kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa keuangan sebesar 6,22 persen.***3***
Agung
Editor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.