Antarajawabarat.com,25/9 - Pemerintah Provinsi Jabar berupaya mengembangkan plasma nutfah untuk mengembalikan gen asli sapi sunda yang dikenal dengan nama sapi rancah.

"Rencana kita mengembangkan plasma nutfah untuk mengembalikan gen aslinya sapi rancah yang menjadi ciri khas sapi Jawa Barat," kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jabar Doddy Firman Nugraha kepada wartawan di Bandung, Kamis.

Ia menuturkan, hasil penelitian sapi bergen jenis sapi rancah di Jabar tercatat sementara populasinya sebanyak 52.540 ekor yang diternak masyarakat dan berada di kawasan hutan tersebar dibeberapa kabupaten.

Kabupaten yang terdapat sapi rancah yakni Kabupaten Ciamis sebanyak 535 ekor, Pangandaran 5.130 ekor, Tasikmalaya 7.231 ekor, Cianjur. 10.346 ekor, Sukabumi 12.897 ekor, Garut 1.842 ekor, Purwakarta 2.788 ekor, Kuningan 7.218 ekor dan Majalengka 4.553 ekor.

Namun sapi rancah yang tersebar di daerah itu, kata dia, sebagian besar sudah dilakukan perkawinan silang dengan jenis sapi lokal milik masyarakat sekitar.

"Sapi rancah merupakan keturunan dari banteng, masyarakat sekitar mengawinkan dengan sapi lokal, sehingga sekarang gennya bercampur," katanya.

Menurut dia, sapi rancah dengan gen asli terdapat di kawasan hutan Sancang di Garut, dan Ujung Kolun di Banten serta di Kebun Binatang Bandung.

Ia berharap, keberadaan sapi rancah gen asli itu dapat membantu upaya pemerintah mempercepat proses pengembangan sapi rancah di Jabar.

"Kita punya balai ada beberapa ekor sapi sedang seleksi untuk dikawinkan, kita juga sedang berusaha mendekati kebun binatang untuk dikawinkan atau mengambil spermanya untuk mempercepat proses gen yang asli," katanya.

Ia mengatakan, jenis sapi rancah memiliki ciri yang tidak berbeda dengan sapi umum lainnya, atau mirip sapi bali.

Ciri khas sapi rancah yang menonjol, lanjut Doddy, warna kulitnya coklat sedikit merah, bentuk badannya lebih kecil, kulit bawah kaki sapi berwarna putih atau seperti memakai kaos kaki.

"Sifatnya tidak liar, mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar," katanya.***2***

Feri P


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026