"Saya menunggu kesempatan untuk bisa melihat jenazah adik saya dan memastikan itu jenazah Budi atau bukan. Sejauh ini kami masih menunggu kesempatan dan menunggu kabar dari Mabes Polri," kata Heri (33) kakak dari Budi Syarif di sela-sela penggeledahan rumah orang tuan Budi di Banjaran, Jumat.
Menurut Heri, ia belum tahu prosesnya untuk memastikan jenazah adiknya itu. ia berharap bisa difasilitasi oleh Mabes Polri.
Ia menyebutkan, pada saat kejadian baku tembak di Cigondewah, ia beserta orang tua dan istri Budi, Ina (29) sempat dipanggil ke Polres Bandung. Bahkan Heri dibawa ke TKP di Kampung Baturengat Cigondewah Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung.
Namun saat itu ia tidak sempat melihat jenazah yang dibawa oleh Densus 88 Anti Teror setelah terjadi baku tembak yang berlangsung selama sembilan jam itu.
"Saya sempat ke lokasi itu, namun tidak sempat melihat jenazah adik saya," kata Heri.
Ia menyebutkan mengetahui bila adiknya menjadi target dari operasi Densus 88 dari televisi yang menayangkan langsung foto Budi alias Angga itu.
"Di TV diperlihatkan fotonya, dan saat itu saya yakin itu adalah adik saya. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kaget dan syok sekali. Termasuk orang tua saya" kata Heri.
Budi merupakan anak dari lima bersaudara anak dari pasangan Suparman (56) dan Ny Euis (53) yang tinggal di Gg Kelana Desa Banjaran Wetan Kabupaten Bandung. Suparman dan ibunya serta istri Budi Syarif telah dimintai keterangan oleh petugas penyidik.
Menurut Heri, keluarga putus kontak dengan Adiknya sejak beberapa bulan lalu. Sepengetahuannya adiknya bekerja di Jakarta, dan tidak menyangka bila terlihat dalam kejadian terorisme itu.
"Ya memang kami putus kontak, namun katanya ia bekerja di Jakarta. Saya tak menyangka bila ia punya kegiatan lain. Selama ini ia sangat santun dan ibadahnya jauh lebih hebat dari saya saudara-saudaranya," kata Heri.
Heri membenarkan bila adiknya itu sempat kuliah di IAIN di Jakarta, namun ia kurang tahu jurusan yang diambilnya. Setelah itu ia menikah dengan Ina, gadis asal Magelang dan dikaruniai lima orang putra dan putri.
Ia juga menyebutkan tidak pernah keluarga besarnya tinggal di Cijerah Bandung atau di daerah lainnya, sebelumnya sempat ditemukan KTP milik Angga beralamtkan Cijerah Kota Bandung.
Sementara itu rumah keluarga Suparman, orang tua Budi Syarif pada Jumat digeledah oleh Tim Densus 88 Anti Teror untuk mengantisipasi adanya bahan peledak di rumah orangtua pria yang tewas bersama dua terduga teroris lainya di Cigendewah.
Polisi mengamankan barang bukti berupa dokumen, gambar-gambar dan VCD. Polisi tidak menemukan benda atau bahan peledak di rumah permanen berlantai dua di Gang Kelana itu.
Selain di Banjaran, Polisi juga melakukan penggeledahan di ruko yang dikelola Budi Syarif alias Angga di Cimahi.
"Penggeledahan dilakukan untuk mengantisipasi adanya bahan peledak di tempat-tempat itu, juga untuk mencari barang bukti lainnya. Kami hanya mengamankan warga dan jalannya penggeledahan ini," kata Kapolres Bandung Kemas Ahmad Yamin.
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.