"Pertemuan dan dialog di Bandung ini akan mengidentifikasi tantangan dan peluang yang ada dalam mewujudkan implementasi kebijakan yang dapat membantu penguranan gas emisi gas rumah kaca melalui manajemen lahan gambut yang efektif," kata Sekretaris Kelompok Kerja Mitigasi Dewan Nasional Perubahan Iklim Farhan Helmy di Bandung, Senin.
Menurut Farhan, kegiatan dialog ini akan menentukan prioritas kebutuhan dalam mengembangkan kebijakan manajemen lahan gambut yang berkelanjutan.
Dialog internasional yang menghadirkan pakar dari dalam dan luar negeri itu digagas oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim dan Indonsia Climate Change Center (ICCC).
Hadir pula pada kesempatan itu Deputi Penasihat Ekonomi dan Kepala Unit Lingkungan Hidup, Sains dan Kesehatan Lingkungan Kedubes AS Benjamin Wohlauer.
"Dialog IIPC ini merupakan forum diskusi untuk meningkatkan penyadartahuan dan pemahaman akan hal-hal yang dibutuhkan Indonesia untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca," kata Farhan.
Lebih lanjut Farhan Hemly menyebutkan dalam kegiatan yang digelar empat hari itu akan membahas hal-hal penting terkait manajemen lahan gambut, antara lain elemen yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan lahan gambut yang efektif serta pembelajaran dari contoh pengembangan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, kata dia dialog tersebut juga akan mengidentifikasi permasalahan dan peluang yang dapat digali lebih dalam lagi mengenai mitigasi dampak perubahan iklim dalam lingkup lahan gambut, serta langkah tindak dalam mengembangkan agenda yang dapat diambil dalam waktu dekat.
Terdapat lima area manajemen lahan gambut yakni perlindungan hutan gambut yang masih tersisa, restorasi lahan gambut yang kering dan terdegradasi, pencegahan kebakaran hutan gambut, pelarangan pembukaan lahan gambut dan pengurangan emisi dari perkebunan-perkebunan yang terlanjur ada.
Terkait lahan gambut yang ada di Indonesia, kata Fahmi belum ada luasan yang pasti, namun dari hasil pendataan dan revisi terakhir luasanya sekitar 16 juta hektar yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera.
Sementara itu Deputi Penasihat Ekonomi dan Kepala Unit Lingkungan Hidup, Sains dan Kesehatan Lingkungan Kedubes AS Benjamin Wohlauer menyatakan perhatian dan upaya terhadap perubahan iklim termasuk dalam hal ini lahan gambut bukan kali kepentingan negara per negara, namun sudah menjadi perhatian internsional.
"Penanganan masalah lingkungan terkait lahan gambut dan emisi gas rumah kaca merupakan permasalahan global yang harus diatasi secara global oleh masyarakat dunia, serta memerlukan kerja sama yang luas," kata Benjamin.
Ia menyebutkan berdirinya ICCC di Indonesia merupakan terobosan unik dan tidak ditemui di negara manapun di Asia.
"Keberadaan ICCC merupakan terobosan unik yang tidak ada di negara lainnya di Asia, dan kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat dilakukan dalam rangka usaha bersama mengantisipasi dampak perubahan iklim, dan itu sudah berlangung cukup lama," katanya.
Sementara itu Koordinator Divisi Komunikasi Indoformasi dan Pendidikan Dewan Nasional Perubahan Iklim Amanda Katili Niode menyebutkan, terkait perubahan iklim merupakan permasalahan rumit, masuk lingkup global yang mengharuskan banyak fihak terlibat.
Ia menyebutkan perlu ada konsensus dalam menangani permasalahan global itu dengan melibatkan banyak sektor dan banyak negara di dunia.***4***
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.