Masjid Kuta di Kampung Mangunkerta, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tampak miring akibat gempa 5,6 magnitudo, Minggu (27/11/2022) (ANTARA/Laily Rahmawaty)
Salah satu amalan ringan agar diberikan kesabaran dalam menghadapi musibah adalah berzikir, dan amalan paling besar adalah bersyukur dalam kondisi apapun.
“Semoga dengan bencana ini Allah memberikan kemudahan, ada hikmah yang terkandung dalam musibah ini,” ujar khatib.
Pelang gapura Masjid At Taqwa, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, rusak akibat gempa 5,6 magnitudo, Minggu (27/11/2022) (ANTARA/Laily Rahmawaty)
Kerusakan tempat ibadah
Usai khutbah Jumat ditutup dengan doa, ikamah dilantunkan oleh Ipda Rasnawi, jamaah berdiri dan bersiap melaksanakan Shalat Jumat yang dilanjutkan dengan Shalat Ghaib untuk korban gempa Cianjur yang meninggal dunia.
Shalat Jumat dipimpin oleh Ustadz Usmar Sumilar pengasuh Madrasyah Diniyah Awaliyah serta imam Masjid Umar bin Khatab.
Suaranya bergetar saat melantunkan ayat suci Alquran dalam setiap rakaat shalat, dan jamaah tertunduk penuh kekhusyukan dalam ibadahnya. Sebagai pengungsi, mengingat gempa yang memorakporandakan rumah mereka, dan sebagai relawan harus berjibaku untuk menyelamatkan korban, mendistribusikan logistik, hingga membangkitkan lagi semangat warga yang tertimpa musibah.
Semua rasa bersatu, shalat diakhiri salam serta berselawat bersama sambil bersalam-salaman. Suasana haru terasa, seperti momen hari raya, namun dalam suasana duka.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.