"Dalam kesepakatan bersama ini, BPPT menawarkan beberapa teknologi untuk mendukung efektifitas penanganan kedaruratan dan search and rescue (SAR)," kata Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar pada Rakor BPPT dan penandatangnan MoU dengan sejumlah instansi di Kota Bandung, Rabu.
Penandatanganan kesepakatan bersama itu juga dilakukan oleh Kepala BPPT Marzan A Iskandar dengan Kepala Basarnas.
Menurut Marzan, pihaknya telah merancang beberapa teknologi untuk mendukung program Basarnas dalam menjalankan operasinya, salah satunya teknologi sistem deteksi dini bencana alam di sejumlah kawasan yang disesuaikan dengan karakter dan kerawanan bencana masing-masing.
Peralatan penyelamatan yang menggunakan teknologi terbaru juga menjadi salah satu kerja sama dengan BPPT yang selanjutnya akan ditindak lanjuti.
MoU yang digelar di Bandung itu, menurut Marzan, merupakan salah satu payung hukum untuk menindaklanjuti langkah pengembangan ke depan untuk perangkat yang diperlukan Basarnas.
Selain perangkat penyelamatan dan pendukung SAR, BPPT juga telah menyiapkan beberapa teknologi pendukung dalam tanggap darurat maupun mitigasi.
"Contohnya kami di BPPT tengah merancang teknologi untuk membuat makanan yang simple namun memiliki kalori tinggi, contohnya roti atau makanan yang berkalori tinggi dan efektif untuk memenuhi kalori korban bencana," kata Marzan.
Menurut Marzan, pihaknya akan menggandeng perusahaan atan industri makanan untuk mengembangkan dan memproduksi makanan berkalori tinggi hasil pengkajian BPPT.
"Sekarang kita sudah mulai, nantinya makanan berkalori tinggi itu bisa diproduksi massal, selain untuk menangani kedaruratan di lokasi bencana, juga bisa untuk pasar umum," kata Marzan yang diamini oleh Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindutri dan Bio Teknologi Listiyani Wijayanti.
Listyani menyebutkan, program itu akan digelar secara sinergi dengan sejumlah program di sektor teknologi agroindustri. Salah satunya dengan menyiapkan program pengembangan tanaman biji tumbuh mandiri (Bituman) yang disiapkan selain untuk revegetasi kawasan lahan kritis dan bekas tambang, juga dilahan produktif.
"Semua program dikembangkan secara sinergitas, dengan target prospek ke depannya menjadi solusi bagi masyarakat," kata Listiyani.
Sementara itu pada Raker BPPT yang digelar di Hotel Sheraton Inn Kota Bandung itu, juga digelar penandatanganan kerja sama BPPT dengan sejumlah instansi yakni dengan Pemprov Lampung untuk pengembangan teknopark, dengan Basarnas untuk teknologi mendukung layanan SAR, PT Inspira Indonesia dalam pengkajian dan penerapan teknologi revegetasi lahan pasca tambang serta dengan PT Len Industri untuk produksi pesawat udara nir awak (PUNA).
"Permasalahan masyarakat Indonesia saat ini bukan sekedar memilih teknologi mana yang terbaik , tapi masih dalam kondisi dimana iptek hanya dijadikan solusi alkternatif dalam tiap permasalahan," kata Kepala BPPT Marzan A Iskandar menambahkan.
Editor : Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.