Antarajawabarat.com,21/1 - Sejumlah aktivis Mahasiswa Pancasila (Mapancas) Jawa Barat mendorong pemerintah membentuk lembaga semacam "Bulog" untuk bisa mengendalikan harga dan distribusi sapi potong di Indonesia untuk mengatasi krisis daging sapi.

"Bentuk semacam Bulog di bidang sapi untuk bisa mengendalikan harga karena fungsi pemerintah adalah pengendali bukan penggali keuntungan," kata Koordinator aksi DPD Mapancas Jabar, Imam Safei dalam aksinya di depan Gedung Sate Kota Bandung, Senin.

Aksi dilakukan oleh Mapancas dengan memblokir sebagian ruas Jalan Diponegoro depan pintu gerbang Kantor Gubernur dan DPRD Jabar itu.

Mereka membentangkan spanduk dan poster di tengah jalan, sekaligus menuntut penurunan harga daging sapi, karena secara berkelanjutan bisa berakibat kurangnya protein bagi masyarakat.

Pada kesempatan itu, Mapancas mengkritisi pernyataan Dinas Peternakan Jabar yang mengimbau menyiasati kelangkaan daging sapi beralih ke daging sapi dan telur ayam merupakan bentuk kurang pas untuk menangani masalah pasokan sapi.

"Pemerintah perlu tegas dalam menegakan tata kelola distribusi sapi potong di Jawa Barat. Akibat harga daging sapi tinggi masyarakat jadi mengurangi konsumsi protein hewani," ujar Syafei.

Selain itu, mahasiswa juga meminta program pengadaan proyek daging sapi yang dilakukan pemerintah perlu diperketat dan dievaluasi lagi. Massa juga mendesak agar program swasembada sapi yang dicanangkan Gubernur Jabar H Ahmad Heryawan segera direalisasikan dengan syarat yang ketat.

Kenyataan saat ini swasembada dilakukan oleh para peternak dan sapinya berusia 4-7 bulan.

"Peternak, pedagang dan pengecer harus duduk bersama mengatasi persoalan ini, dan yang jelas tindak tegas spekulan di tingkat manapun," katanya.

Di akhir aksinya, DPD Mapancas Jabar mendesak pemerintah untuk menangani masalah pasokan sapi potong dan mengevaluasinya, pasalnya fenomena itu terus berulang setiap tahun.

Aksi mahasiswa itu dilakukan menyusul kelangkaan sapi potong di Jabar yang mendorong kenaikan harga daging sapi hingga menembus Rp100 ribu per kilogram. Akibatnya para pedagang merugi karena daging sapi tidak laku.

Akibatnya, pedagang sapi berhenti berjualan seperti yang terjadi pada Senin (21/1) di Kota Bandung. Para pedagang pengecer memilih menutup kiosnya karena kesulitan mendapatkan pasokan dari rumah potong hewan.***3***
(S033)

Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026