ANTARAJAWABARAT.com, 24/7 - Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat menuturkan harus ada sebuah "good will" dari Pemprov Jawa Barat terkait gelojak harga kedelai yang mengalami kenaikan hingga mencapai harga Rp8.000 per kilogram.

"Karena para pelaku usaha yang menggunakan komoditas kedelai sangat banyak dan beragam jenisnya. Mulai dari pengusaha tahu, tempe, kecap dan lain-lain," kata Ketua Komisi B DPRD Jawa Barat Selly Gantina, di Kota Bandung, Selasa.

Namun sayang, kata Selly, hampir sebagian besar suplai kedelai yang digunakan oleh pengusaha tahu, tempe dan kecap di Indonesia termasuk di Provinsi Jabar justru dari impor terutama dari Amerika dan China.

"Memang banyak kendala petani petani kedelai kita saat mereka bercocok tanam sebab biaya produksinya sangat tinggi dengan harga jual kedelai yang tidak sesuai sehingga akhirnya harga kedelai lokal selalu lebih mahal dari kedelai impor," kata politisi dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jabar ini.

Dikatakannya, di luar gelojak harga kedelai saat ini, ada hal lainnya yang tidak kalah penting untuk tentang pemahamanan bahwa kedelai lokal kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan kedelai impor.

"Sebab kedelai impor yang kita pergunakan selama ini adalah kedelai hasil tanam entah di beberapa musim tanam kebelakang. Sehingga mutu pun tidak se-fresh yang lokal punya," kata Selly.

Oleh karena itu, kata dia, jika pelaku usaha yang memang lebih memperhatikan kualitas produknya maka pasti akan lebih senang menggunakan kedelai lokal terlepas dari harga kedelai lokal yang lebih tinggi dari impor.

Dinas Perindrustian dan Perdagangan Jawa Barat akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas KUKM dan Ketua Pusat Koperasi Perajin Tahu Tempe Jawa Barat terkait kenaikan harga kedelai yang saat ini mencapai harga Rp8 ribu per kilogram.

"Terkait dengan kenaikan harga kedelai akhir-akhir ini, kami dari Disperinda Jabar akan berkoordinasi dengan dinas terkait. Mudah-mudahan, dua tiga hari ke depan kita bisa melakukan koordinasi tersebut," kata Kepala Dinas Perindrustian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif.

Ferry mengatakan, selama ini pihaknya sudah melakukan pemantauan harga kedelai di lima pasar yang ada di Kota Bandung dan dari pantauan tersebut Disperindag membenarkan bahwa telah terjadi kenaikan harga kedelai.

Sementara itu, Ketua Pusat Koperasi Perajin Tahu Tempe (Kopti) Jawa Barat, Asep Nurdin menuturkan kenaikan kedelai sudah terasa sejak sekitar lima bulan terakhir akan tetapi paling parah terjadi pada pekan lalu, di mana harga kedelai dua kali naik dalam sehari.

Kopti Jabar menilai, harga kedelai yang mencapai Rp8000 per kilogram sudah tidak wajar dan para perajin tempe dan tahu meminta pemerintah mengambil alih tata niaga kedelai supaya tidak dikuasai pasar.

ajat


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026