"ASELI mendesak pemerintah untuk segera membangun pecontohan pembangkit listrik arus dan gelombang laut berskala besar minimal satu Mega Watt (MW) yang terkoneksi pada jaringan PLN, sehingga bisa segera membuktikan ketangguhan pembangkit listrik alternatif itu di masa depan," kata Ketua Umum ASELI Prof Dr Mukhtasor di sela-sela Lokakarya Penguatan Regulasi dan Revitaliasi Energi Laut Nasional di Bandung, Kamis.
Menurut dia, pengembangan energi listrik tenaga arus dan gelombang laut itu akan menjadi daya ungkit pertumbuhgan energi laut nasional, sekaligus solusi untuk energi di masa depan.
Selain pilot project pembangkit listrik arus dan gelombang laut, juga dalam jangka menengah akan mengembangkan pembangkit listrik panas laut atau OTECS berkapasitas 50 MW ke atas.
"Akumulasi pengetahuan dan pengalaman nasional dalam lima tahun ke depan akan mengokohkan industri energi laut ini dan membantu mengurangi ketergantungan pada minyak dan memperkuat ketahanan energi nasional," katanya.
Apalagi, katanya yang juga anggota Dewan Ekonomi Nasional itu menyebutkan, pemanfaatan energi laut itu merupakan indikator keberhasilan program pemerintah 2010-2014 sebagaimana diamanatkan oleh UU No.17/2007 tentang RPJPN.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi energi laut yang potensial yakni di sepanjang jalur Pantai Selatan Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Sulawesi serta kawasan kepala burung Papua yang menghadapi Samudera Pasific.
Ia mencontohkan, negara yang sudah berhasil mengembangkan energi arus laut adalah Korea Selatan, dari pembangkit arus pasang surut bisa menghasilkan 250 MW. Demikian halnya Jepang yang juga mengembangkan potensi itu.
"Indonesia yang punya potensi energi laut lebih besar, potensinya mencapai 49 ribu MW, terutama untuk wilayah timur Indonesia yang saat ini masih terkendala pasokan energi," katanya.
Hanya saja, kata Mukhtasor, sejauh ini belum ada yang memulai dan pengetahuan tentang pembangkit arus laut di Indonesia masih sangat terbatas. Namun bila percontohan sudah terbangun dan sudah terkoneksi ke jaringan PLN, maka menurut dia para pengusaha Indonesia dan investor luar negeri akan tertarik untuk berinvestasi.
"Biaya investasi dan harga produksi energi laut relatif bersaing dengan bahan pakar minyak, sangat cocok untuk wilayah luar Jawa yang listriknya tergantung pada listrik berbahan bakar minyah. Biaya produksinyapun bisa ditekan, sampai 15 sen dolar AS per KWH, sedangkan listrib berbahan bakar BBM biayanya mencapai 20 sen dolar AS," katanya.
Sedangkan persiapan untuk instalasi percontohan pembangkit arus lauti itu, sementara akan dibangun pembangkit arus laut berkapasitas 175KW di NTB, Riau, dan sejumlah titik lainnya di Indonesia.
"Pembangkit itu dibangun bekerjasama dengan BPPT, Kementerian ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup. Namun yang jauh lebih dibutuhkan adalah momentum dukungan pemerintah untuk pembangunan pembangkit berkapitas besar di atas 1MW sehingga membuka mata investor," kata Mukhtasor yang juga Guru Besar di Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu.
Sementara itu lokakarya yang digelar di Kota Bandung, menurut Mukhtasor adalah untuk menekankan penguatan regulasi dalam rangka revitalisasi program energi laut.
Menurut dia, tanpa revitalisasi program energi laut, bersama-sama dengan energi terbarukan lainnya, penyediaan energi terbarukan hanya akan menjadi wacana dan berbahaya karena akan membuat ketergantungan pada BBM fosil masih dominan.***3***
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.