ANTARAJAWABARAT.com,20/3 - Kota Bandung melakukan langkah antisipasi untuk mencegah serbuan serangga "Tomcat", termasuk menyiapkan insektisida antiserangga.

"Sejauh ini belum ada laporan serangan Tomcat di Bandung, namun tetap antisipasi jangan sampai kasus seperti di Surabaya terjadi di Bandung. Laporkan bila ada serangga tomcat di sini," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (Peh) Dinas Pertanian, Peternakan, dan Ketahanan Pangan Kota Bandung Sudarmadji di Bandung, Selasa.

Menurut Sudarmadji, tidak menutup kemungkinan kasus itu terjadi di Kota Bandung seperti halnya kasus ulat bulu beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, kata dia, belum ada laporan kasus serangga Tomcat di Bandung. Kalau misalnya terbawa dari Surabaya ke Bandung, tentu Tomcat bisa berkembang biak. Tomcat serangga migran yang bisa berkembang biak dan mirip seperti semut.

Menurut Sudarmadji, serangga tomcat akan mengeluarkan cairan jika kulit manusia terkontaminasi langsung dengan tomcat.

Tomcat akan mengeluarkan cairan dan saat itu kulit akan terasa gatal. Kulit yang terkena cairan tomcat akan melepuh dan lukanya mirip seperti luka pada penyakit herpes, katanya.

"Serangga Tomcat yang kini sedang mewabah di daerah Surabaya menimbulkan luka, tetapi lukanya mirip seperti luka pada penyakit herpes. Di Kota Bandung dipastikan hingga kini masih bebas dari serangan Tomcat," katanya.

Tomcat adalah jenis serangga dengan nama lain Kumbang Rove. Di Indonesia, Tomcat biasanya dikenal dengan istilah Semut Semai atau Semut Kayap.

Tomcat memiliki warna tubuh kuning gelap bergaris hijau dan kepala berwarna gelap. Tubuhnya bersayap meski kerap kali merangkak.

Meski tidak mengigit, kata dia, serangga jenis ini memiliki cairan racun yang berbahaya "toxin hemolimf". Toksin ini dikenal sebagai paederin yang memiliki keampuhan dan bisa mematikan.

"Masyarakat juga diharapkan dapat berhat-hati terhadap jenis serangga apa pun karena bisa saja membahayakan seperti Tomcat," katanya Sudarmadji. ***3***

Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026