ANTARAJAWABARAT.com,25/11 - Petani dan nelayan dituntut untuk bisa melakukan adaptasi dengan perubahan iklim yang ekstrem untuk bisa mempertahankan produktifitas mereka dalam beberapa tahun ke depan.

"Perubahan iklim jelas akan berpengaruh terhadap produktifitas sektor pertanian, perikanan darat maupun perairan umum. Kuncinya harus mampu melakukan adaptasi dalam pemilihan benih yang cocok dengan karakter cuaca dan iklim yang cepat berubah," kata Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Iwan Setiawan Wangsaatmaja di Bandung, Jumat.

Menurut Setiawan, para petani, nelayan dan juga elemen yang terkait dalam produksi pertanian dan perikanan perlu melakukan sinergitas untuk bisa mempertahankan produktifitas di tengah perubahan iklim saat ini.

Ia menyebutkan, dengan kondisi iklim yang cepat berubah seperti saat ini, maka akan berpengaruh terhadap karakter kelembaban udara yang memungkinkan munculnya serangan hama atau dampak akibat hujan atau kekeringan.

"Saat ini kami melakukan pendataan kawasan yang rawan gagal panen akibat perubahan iklim, kita data daerah potensi puso atau yang mengalami penurunan produktivitasnya," kata Setiawan Wangsaatmaja.

Jawa Barat, menurut Setiawan, termasuk kawasan yang sangat merasakan dampak perubahan iklim baik saat musim kemarau maupun musim hujan saat ini. Untuk itu pihaknya terus melakukan konsolidasi dan koordinasi antar institusi untuk melakukan antisipasi dampak ke depan.

Iwan mengakui, penurunan kualitas vegetasi di wilayah itu ikut berpengaruh terhadap kondisi iklim lokal di kawasan itu. Ia menyebutkan, secara keseluruhan vegetasi hutan di Jabar saat ini sekitar 35 persen, sesuai dengan minimal dari ketentuan UU.

Namun demikian di beberapa kota vegetasinya di bawah 20 persen. Ia mencontohkan kawasan hijau di Kota Bandung saat ini tidak lebih dari 11 persen, dan sulit untuk melakukan penambahan hutan kota karena sudah terdesak oleh perumahan penduduk.

"Vegetasi wilayah kota di Jabar rata-rata di bawah 30 persen, sedangkan wilayah Kabupaten masih 60 persen kawasan hijau. Kuningan merupakan kawasan paling besar prosentase kawasan hutannya sehingga saat ini menjadi kabupaten konservasi," kata Setiawan menambahkan. ***6***

Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026