"Untuk pertama kalinya sektor kelompok bahan makanan di tujuh kota pantauan di Jabar mengalami deflasi meski kecil sebesar 0,09 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Lukman Ismail di Bandung, Selasa.
Pemantauan indeks harga konsumen di Jabar dilakukan di tujuh kota yakni di Kota Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Bekasi dan Depok.
Sementara itu secara keseluruhan mulai Januari hingga Oktober 2011 atau year of date, Jabar mencatat inflasi 1,95 persen dengan delapan kali inflasi bulanan dan dua kali deflasi.
Inflasi gabungan Jabar sepanjang dua belas bulan terakhir atau Oktober 2010 hingga Oktober 2011 atau yoy sebesar 3,40 persen.
Sementara itu pada Oktober 2011, empat kelompok pengeluaran di Jabar mengalami inflasi yakni tertinggi untuk kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar sebesar 0,60 persen.
Kelompok kesehatan inflasi 0,47 persen, kelompok makanan jadi, rokok, minuman dan tembakau 0,24 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga inflasi 0,20 persen.
Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi selain bahan makanan adalah kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan deflasi 0,20 persen dan sandang deflasi 0,64 persen.
Enam dari tujuh kota di Jabar mengalami inflasi yang mana tertinggi inflasi Kota Tasikmalaya sebesar 0,31 persen, Bogor 0,29 persen, Bekasi 0,25 persen, Bandung 0,19 persen dan Cirebon 0,16 persen dan terendah Kota Sukabumi 0,09 persen.
Sedangkan Kota Depok deflasi sebesar 0,15 persen.
Sementara itu daerah pedesaan di Jabar pada Oktober 2011 terjadi deflasi sebesar 0,03 persen. Hal ini dipicu oleh turunnya indek kelompok bahan makanan 0,20 persen.
Sedangkan enam kelompok kesehatan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,59 persen disusul sektor perumahan 0,12 persen. sandang 0,11 persen, makanan jadi 0,08 persen. transportasi dan komunikasi 0,07 persen dan kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga 0,04 persen.
Nilai tukar petani (NTP) di Jawa Barat pada Oktober 2011 tercatat 107,31 atau mengalami kenaikan 1,08 persen dibanding NTP September 2011.
"Indeks yang diterima petani mengalami kenaikan lebih tinggi 1,11 persen dibandingkan indeks yang dibayarkan petani yang naik melambat 0,02 persen," kata Lukman Ismail menambahkan.
-syarif-
Editor : Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.