"Saat ini TMC yang kita miliki sudah berjalan dengan ditangani oleh empat orang petugas dalam operasionalnya. Sedangkan dalam satu hari bisa diisi oleh tiga orang dengan sistim kerja bergantian," kata Kapolresta Cimahi, AKBP Rudy Heryanto Adi Nugroho kepada wartawan , Rabu.
Dijelaskannya, TMC Polresta Cimahi akan dilengkapi 27 monitor yang terhubung dengan seluruh TMC di Indonesia.
Ditargetkan menjelang lebaran tahun 2011 ini, Polresta Cimahi akan meresmikannya secara formal TMC yang akan melakukan pemantauan terhadap 16 titik rawan kemacetan dan kecelakaan di wilayah hukum Polresta Cimahi baik Kota Cimahi maupun Kabupaten Bandung Barat.
"Selain itu, kita pun telah meminta kepada Dinas Perhubungan baik Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi untuk memasang rambu-rambu lalu lintas. Tujuannya, supaya pengguna jalan lebih berhati-hati melintasi ruas jalan yang dianggap rawan," ujarnya.
Disampaikannya, beberapa wilayah titik rawan kecelakaan di KBB (Kabupaten Bandung Barat) diantaranya Tol Purbaleunyi KM 119-122, Jalan Raya Gunung Masigit, Pamuncatan, Cigentur, Jalan Raya Barujajar, eks Tol Rajamandala, dan Jalan Raya Tangkuban Perahu Lembang.
Sedangkan ruas jalan rawan longsor di antaranya Jalan Raya Purwakarta Cikewet, Jalan Raya Parongpong, Jalan Raya Kolmas-Cisarua, Jalan Maribaya Lembang, Tol Purbaleunyi Km 122-124, dan Cibogo-Cipatat. Selain itu, ada juga ruas jalan yang dianggap rawan banjir, diantaranya Ciburuy-Padalarang dan pertigaan Cimareme.
"Jalan di Kab Bandung Barat rawan kecelakaan lalu lintas dan rawan longsor. Ruas jalan yang berpotensi rawan kecelakaan menjadi persoalan yang harus ditangani untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan berlalu lintas," ujarnya.
Menurutnya, menyikapi persoalan tersebut, baik kepolisian maupun Dishub berpegangan pada UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan jalan. Ditengarai Rudy, persoalan infrastruktur jalan yang rusak pun seringkali menjadi penyebab kecelakaan.***3***
(U.pso-215/B/Y003/Y003) 06-07-2011 12:27:47
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.