"Masih maraknya penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan membuat kerusakan ekosistem laut di kawasan pantai utara Cirebon semakin parah. Akibatnya, sumber daya perikanan dan kelautan terus menurun," kata Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwasmas) wilayah Pantura Jawa Barat, Purwadi, Selasa.
Ia mengatakan, tahun 2000an, tangkapan nelayan berupa ikan, cumi-cumi maupun kepiting antara lima dan 10 kilogram per nelayan, tetapi kini untung masih dapat tiga kilogram per nelayan per hari.
Menurut dia, saat ini di wilayah Pantura Cirebon sedikitnya ada dua ribu alat tangkap yang masuk kategori tidak ramah lingkungan seperti jaring "arad" dan "garok" rajungan.
"Namun, hingga saat ini regulasi mengenai penataan kawasan ataupun pengaturan alat tangkap ikan di wilayah perairan pantura Jawa Barat tampaknya belum ada," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan pendekatan persuasif dan pendampingan terhadap para nelayan agar meninggalkan penggunaan jaring tradisional yang tidak ramah lingkungan tersebut.
"Sebenarnya, diantara nelayan sendiri terjadi pro dan kontra mengenai penggunaan jaring tersebut. Hal tersebut menandakan telah tumbuhnya kesadaran di kalangan nelayan," katanya.
Purwadi mengakui, penggunaan alat tangkap terlarang sulit dihentikan sebab bagi nelayan hal itu menjadi kebiasaan yang telah di lakukan sejak lama. Hampir setiap perkampungan nelayan di daerah cirebon menggunakan jaring yang tidak ramah lingkungan tersebut. "Kami akan terus mendorong dan mengajak mereka untuk meninggalkan alat tersebut," ujarnya.
Dikatakannya, jaring "arad" merupakan salah satu jenis jaring yang dirancang untuk menangkap ikan dari yang besar hingga ikan teri. Sedangkan "garok" merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap kepiting dan rajungan.
Mereka menggunakan alat tangkap ini dengan tujuan untuk memperoleh ikan dalam jumlah banyak Namun, mereka tidak menyadari kegiatan tersebut merusak ekosistem laut dan mengancam punahnya ikan di zona dekat pantai.
"Akibat maraknya penggunaan alat tersebut, para nelayan saat ini sulit mendapatkan ikan khususnya rajungan kepiting, kerang dan biota laut lain seperti plangton sebagai penyeimbang ikan karena ikut terjaring," tambah Purwadi. ***5***
Yasad A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.