Depok, 13/10 (ANTARA) - Universitas Indonesia mengukuhkan dua Guru Besar, yaitu Prof. Drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc., Ph.D sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., Apt sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Rabu.

Upacara pengukuhan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 10.00 WIB dan dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. der Soz. Gumilar R. Somantri di Balai Sidang UI, Kampus Depok.

Jurubicara UI, Vishnu Juwono melalui siaran pers UI menjelaskan, dalam acara pengukuhan itu Prof. Drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc., Ph.D akan menyampaikan orasi ilmiahnya yang bertajuk “Formulasi Kebijakan Kesehatan : Strategi Menghadapi "The Disease of Tommorow" melalui Pendekatan "Systematic Review" dan "Asta Gatra".

"The Disease of Tomorrow", adalah penyakit infeksi yang sewaktu-waktu dapat muncul secara cepat dan dapat mengakibatkan korban dan kerugian ekonomi yang besar di masyarakat.

Untuk menghindari terjadinya "The Disease of Tomorrow" diperlukan sebuah pendekatan solusi yang menggabungkan antara "surveillance", manajemen wabah, "systematic review" terhadap hasil penelitian terkait dan analisis "asta gatra".

"Systematic review" dapat dilakukan dengan mereview faktor resiko "The Disease of Tomorrow" dari hasil berbagai penelitian multidisiplin di dunia. Hasil "Systematic review" digabungkan dengan data kesehatan yang dimiliki kemudian dilakukan simulasi wabah.

Simulasi ini perlu digabungkan dengan pertimbangan lingkungan strategis *asta gatra* dalam memformulasi kebijakan kesehatan merepson ancaman penyakit tersebut. Pertimbangan asta gatra penting mengingat kebhinekaan Indonesia baik dalam sosial budaya dan hayati.

Sementara itu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., Apt akan menyampaikan orasi ilmiahnya mengenai ”Peran Bioanalisis dalam Penjaminan Kualitas Obat dan Peningkatan Kualitas Hidup Pasien”.

Bioanalisis mempunyai peranan yang sangat penting dalam uji bioekivalensi dalam penjaminan mutu obat generik, karena saat ini belum ada metode analisis standar/baku di dalam farmakope/compendial yang bisa langsung digunakan untuk menganalisis senyawa obat/analit atau metabolitnya dalam matriks biologi.

Tantangan utama pelaksanaan uji bioekivalensi adalah mengembangkan metode bioanalisis yang tepat. Dikarenakan kadar obat di dalam matriks biologi sangat kecil, sehingga dibutuhkan teknis pengukuran bioanalisis yang sangat sensitif, selektif agar dapat mengukur kadar obat terkecil dalam matriks biologi secara akurat dan reliabel.

Pelaksanaan bioanalisis di laboratorium harus menerapkan prinsip Cara Berlaboratorium yang Baik (*Good Laboratory Practice * = GLP) untuk menghindari kekeliruan atau kesalahan yang mungkin timbul, sehingga menghasilkan data yang tepat, akurat, baik secara ilmiah maupun secara hukum.

Idealnya suatu studi bioekivalensi dilakukan oleh suatu laboratorium yang sudah terakreditasi ISO/IEC 17025 untuk bidang pengujian dalam rangka memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa data yang dihasilkan akurat dan dapat dipercaya.

Teguh Handoko


Editor : Teguh Handoko

COPYRIGHT © ANTARA 2026