Tak ada yang salah, menyambut kedatangan Ramadhan dengan kesemarakan sosial yang menggairahkan.
Menampilkan aneka budaya, menyuguhkan kelezatan makanan lebih dari hari biasa, memeriahkan dengan aktivitas gempita dan lainnya, dapat dipahami dan dimaklumi sebagai bagian dari ekspresi murni masyarakat menyambut kedatangan Ramadhan.
Dari prespektif sosial, ini dapat menciptakan atmosfir yang mengkondisikan masyarakat untuk bergairah melaksakan ibadah puasa.
Bagaimana pun suasana sosial -sekali pun tidak sepenuhnya menjadi jaminan- dapat mendorong kegairahan ibadah seseorang.
Ketika dalam rumah sebagian besar berpuasa, secara psikologis, mereka yang tak berpuasa akan “tergoda” untuk berpuasa. Setidaknya ada motivasi dan dorongan untuk berpuasa ketika orang sekitar berpuasa.
Keinginan menjadi bagian dari komunitas atau kelompok berpuasa itu merupakan titik awal yang diharapkan mendorong semangat dan kegairahan beribadah puasa dari mereka yang sebelumnya tak peduli.
Inilah, manfaat dari atmosfir sosial yang terbentuk saat masyarakat Indonesia menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan.
Namun demikian, sebagaimana ditegaskan Al Gazali, prosesi sosial (melaksanakan fiqih) ibadah puasa masih merupakan tahapan paling awal dari totalitas kegiatan puasa. Lapar dan haus, kemeriahan berbuka dan bersahur adalah tahapan awal, yang harus dilanjutkan tahapan berikutnya, bila seseorang ingin meraih inti atau subtansi dari puasa Ramadhan.
Membangun kesadaran inilah sesungguhnya yang paling sulit dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan,
Seringkali terlalu asyik bermegah ria dalam aksesoris Ramadhan – bergairah belanja, melebihkan makanan dari hari biasa, termasuk semangat luar biasa menyongsong Idul Fitri dan lainnya - menenggelamkan kita dalam arus sosial, yang kosong dan jauh dari inti nilai spiritual Ramadhan.
Benar bahwa menghadapi lapar dan haus, sangat mudah. Siapa pun yang secara fisik sehat, mudah melewati tahapan itu.
Benar, selalu ada jalan ke luar untuk memeriahkan kedatangan Ramadhan dengan aneka berbuka dan sahur, yang lebih dari hari biasa.
Namun diperlukan kesungguhan ekstra dan kerja keras bila kita ingin mencapai dan meraih inti atau subtansi Ramadhan.
Begitu mudah kita larut dalam kegairahan Ramadhan dan Idul Fitri bernuansa belia (anak-anak), yang hanya memancarkan kegembiraan sesaat.
Seringkali kita mempersepsikan kedatangan Ramadhan dan Idul Fitri dengan sangat dangkal; hanya menjadi sebuah seremonial ubudiyah bernuansa sosial meriah.
Tentu saja, ini sangat disayangkan. Energi dan biaya seluruh aktivitas Ramadhan sampai Idul FItri, sangat tinggi. Kita perlu memaknai lebih intens dengan tetap memberikan apresiasi pada suasana kegairahan dan kemeriahan sosial.
Kita menikmati kegairahan sosial itu, sebagai sebuah tahap dan bukan tahapan atau tujuan akhir.
Kesadaran seperti inilah yang harus dibangun, ketika kita memasuki Ramadhan. Bahwa puasa itu aktivitas spiritual, batin, rohani, jiwa; bukan aktivitas fisik semata; bukan kemeriahan sosial semata.
Aktivitas fisik dan kemeriahan sosial adalah aksesoris yang tak boleh melelapkan kita pada tujuan moral dari puasa.
Yang indah tentu saja bila puasa mengendap membangkitkan nilai spiritual, lalu menciptakan output sosial yang berangkat dari pemaknaan inti puasa.
Kemeriahan sosial yang terwujud insya Allah memberikan maslahat dan manfaat bagi orang-orang sekitarnya. Kegembaraan yang terpancar menggembirakan orang lain dan bukan justru mengentalkan egoisme.
Idealnya, kita menyambut Ramadhan dengan menempatkan dan mempersepsikan serta mengembangkan aktivitas spiritual, meraih intinya yang diharapkan melahirkan kesadaran sosial yang menggembirakan dan menggairahkan serta terutama memberikan manfaat sosial.
Bukan seperti yang selama ini kita lakukan: menggairahkan dan menyemarakkan seremonial, aksesoris Ramadhan, dengan harapan hadir kesalehan spiritual.
Ini jelas lebih sulit diharapkan. Karena sama saja dengan membangun rumah dimulai dari atap dan bukan dari fondasi.
Karena itu, luruskan niat mengedepankan inti dan subtansi Ramadhan, dan kita berharap terpancar perilaku sosial, yang menggembirakan orang-orang sekitar.
Format dan anatomi seperti itu, insya Allah, lebih indah dan berpotensi membawa kita kea rah yang lebih baik.
Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa di Bulan Ramadhan 1431 H. Semoga kita menjadi manusia yang beriman dan bertakwa sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al Quran surat Al Baqarah dan mengikuti Sunnah Rasul.*
*) cendekiawan muslim di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia +62818791269
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.