Garut, 30/3 (ANTARA) - Satu rumah penduduk kampung Jumre desa Caringin di kecamatan Karangtengah kabupaten Garut, Jawa Barat, rubuh akibat tergerus tanah, Selasa.

Camat Karangtengah, Asep Suparman, M.Si menyatakan, gerusan retakan tanah tersebut dipicu bekas goncangan gempa tektonik 7,3 SR pada 2 September 2009.

Bahkan sejak 21 hari lalu, 97 penghuni 20 rumah di kampung Cukang desa Cinta, terpaksa dievakuasi untuk diungsikan ke lokasi aman karena kian terancam gerusan tanah bergerak.

Sebelumnya Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Surono menyimpulkan hasil penelitian institusinya, terhadap pergerakan tanah di kecamatan Karangtengah tersebut.

Kesimpulannya, retakan di puncak dan bagian tengah bukit tidak mengarah ke seluruh perkampungan Cukang, melainkan hanya mengancam tujuh rumah di RT. 03 dan 13 rumah di RT. 02.

Kemudian retakan di Kampung Jeungjing tidak mengarah ke pemukiman warga, tetapi mengarah ke alur sungai dan ladang milik penduduk sekitarnya.

Selanjutnya air yang berada pada sawah dan kolam di kampung Cukang, kembali masuk ke bawah permukaan tanah diingatkan bisa memicu terjadinya gerakan tanah susulan.

Karena itu, Kepala PVMBG, merekomendasikan agar retakan ditutup dengan tanah kemudian dipadatkan untuk mencegah masuknya air permukaan ke dalam retakan yang dapat memicu gerakan tanah.

Sebagian besar pemukiman penduduk di kampung Cukang tetap biwsa dipertahankan, karena kondisi perkampungan itu sebagian besar masih layak bagi pemukiman.

Sedangkan pemukiman di kampung Jeungjing tidak perlu direlokasi, dan tidak perlu mengungsi karena potensi ancaman tanah longsor ke arah ladang, namun arah ke alur sungai yang tertimbun material gerakan tanah harus segera dibersihkan.

Direkomendasikan pula supaya tidak membangun pemukiman di atas dan di bawah bukit, dengan sudut lereng sedang (15-30 derajat hingga curam diatas 30 derajat), tidak membangun pemukiman pada alur lembah serta sungai.

Masyarakat yang tinggal di bawah dan pada lereng terjal, harus waspada terutama jika terdapat retakan pada lereng bukit pada saat dan sesudah hujan, dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama.

Terdapatnya retakan-retakan tanah harus terus dipantau perkembangannya, karena jika semakin melebar sebaiknya masyarakat mengungsi untuk sementara ke tempat yang lebih aman, imbuh Dr Surono.


(U.KR-HT/C/Y003/Y003) 30-03-2010 15:20:02


Editor :

COPYRIGHT © ANTARA 2026