Mau menikmati kopi ala Starbucks dengan harga murah meriah?

Coba datang ke kedai "Korban Kopi" di Jalan Jatinangor KM 21 nomor 208G di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Di kedai yang buka nonstop 24 jam per hari dan beroperasi sejak 17 April 2009 itu dapat dinikmati 15 aneka rasa kopi asli pilihan dengan harga bervariasi antara Rp 7 ribu hingga Rp 15 ribu per cangkir.

Adalah empat mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Fisip Unpad angkatan 2006 - Indra Maulana, Humaidi, Darwanto, dan Novita Dinati - serta seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris Unpad Ahmad Kasiron yang membidik target mahasiswa sebagai korban atau penikmat kopi sehingga mereka berwirausaha dengan modal Rp25 juta membuka kedai itu.

"Misi kami mengimbangi dominasi Starbucks," kata Indra Maulana yang berperan sebagai Direktur Pemasaran.

Mereka bangga dan optimistis menambah cabang kedai "Korban Kopi" karena omset per bulan telah mencapai Rp20-30 juta menumbuhkan harapan prospek cerah bisnis kuliner yang marak di Bandung dan sekitarnya.

Kata "korban" dijadikan nama kedai kopi mereka semata-mata untuk menarik perhatian publik.

"Sama sekali tidak dimaksudkan menjadikan konsumen kami seperti penyanyi almarhum Mbah Surip yang kecanduan kopi plus rokok tetapi kata korban kami asosiasikan sebagai penggemar atau penikmat kopi," kata Indra.

Kreativitas, termasuk dalam memberikan nama, memang mutlak dibutuhkan dalam mencari perhatian publik sehingga nama diharapkan mudah diingat.

Kreativitas bisnis kuliner mereka telah mendapat penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan sebagai kedai kopi bertaraf Starbucks namun berkonsep mahasiswa pada acara Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (Hipmikindo) di Jakarta pada 3 Maret lalu.

Bagi Ketua Hipmikindo Jawa Barat Heri Pratikto, apa yang dilakukan lima mahasiswa Unpad itu merupakan terobosan baru dalam wirausaha dan menumbuhkan inspirasi bagi kalangan generasi muda untuk menjadi wirausahawan mandiri.

"Patut dipuji," kata Heri seraya menambahkan bahwa "Korban Kopi" telah terdaftar dalam Hipmikindo Jawa Barat.

Konsumen yang datang ke kedai ini dimanja dengan berbagai fasilitas gratis untuk berselancar sepuasnya di dunia maya bahkan bagi mereka yang tidak membawa uang untuk membayar kopi dan makanan pun tak perlu cemas.

"Mereka bisa membayar melalui 't-cash' dengan hanya menunjukkan nomor hp bagi pelanggan Telkomsel," kata Indra.

Konsumen mendapat garansi bisa menikmati kopi racikan asli standar aroma dari toko kopi di Jalan ABC Bandung dan dari daerah lain di Jawa dan Aceh.

Tiap bulan sekitar 30 hingga 40 kilogram kopi habis dinikmati menjadi minuman.

Indra mengaku membeli kopi pilihan itu seharga Rp42-52 ribu perkilogram.

Kopi bubuk yang mereka beli kemudian dikemas dalam kantung plastik kecil yang siap diseduh dengan air panas yang masih mendidih.

"Ciri kopi kami tetap meninggalkan ampas sehingga rasa aslinya tetap terjaga," kata Indra.

Dengan fasilitas internetan gratis, konsumen diharapkan dapat berlama-lama di kedai kopi itu dan memesan kopi berulang-ulang atau memesan aneka makanan serta minuman ringan lain.

"Jadi tak hanya penikmat kopi yang bisa datang ke sini tetapi yang bukan peminum kopi bisa datang dan menikmati fasilitas yang kami sediakan," kata Indra.

Selain dimanja dengan fasilitas "hot spot" untuk internetan gratis, pengunjung pada waktu-waktu tertentu juga bisa bermain musik langsung untuk menampilkan bakat yang dimiliki.

Berkumpul, makan dan minum, serta bermain musik menjadi variasi yang saling melengkapi bagi Indra dan kawan-kawan untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya.

Lokasi mereka yang sangat berdekatan dengan berbagai kampus di kawasan Jatinangor serta indekos mahasiswa juga menjadi alternatif utama bagi mahasiswa untuk berkumpul, berdiskusi, makan dan minum, atau mengerjakan tugas-tugas
kuliah.

"Terutama menjalin sitalurahim sesama mahasiswa harus tetap terjalin di dalam dan luar kampus," kata Indra.

Heri menimpali bukan mustahil bahwa pemimpin masa depan bangsa pernah minum kopi di tempat ini.

"Kalau itu terjadi maka merupakan kebanggaan tersendiri.

Indra, anak sulung dari dua bersaudara dari pasangan suami istri Wawan Sukesetiawan dan Decy Widhianti, memiliki obsesi memperluas bisnis kedai kopinya.

"Ia mantap mengembangkan bisnis ini. Dulu waktu pertama jadi mahasiswa dia jualan donat dengan modal yang dia kumpulkan dari beasiswa yang didapat dari Sampoerna, lalu menjual kaus, dan sekarang kedai kopi. Meskipun begitu saya tetap berharap dia mengutamakan kuliahnya sampai tamat," kata Decy, ibunda Indra.

Bisnis kedai kopi mereka diberi label perusahaan CV Korban Kopi Resto N Services. Mereka juga memiliki mimpi memiliki cabang di sekitar kampus di seluruh Indonesia. Bila demikian, makin banyak korban kopi yang ingin mereka bidik.

budi setiawanto


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026