Mojang Bandung jaman dulu berpakaian kain batik dan kebaya serta menggunakan sandal kayu yang bertumit tinggi, dilukis warna-warni dan diukir beragam ornamen.

Sandal dari kayu tersebut diberi nama kelom geulis. Kelom berasal dari bahasa Belanda yaitu kelompen yang berarti alas kaki. Geulis berarti indah atau cantik. Kelom geulis ini sangat terkenal pada zamannya, siapa yang tidak memakainya dianggap tidak mengikuti zama.

Sisa kejayaan kelom geulis ada di Toko Keng, yang kini dikelola Yamin Teramuni, generasi ketiga pemilik toko itu. Toko Keng berdiri sejak 1942 dan merupakan toko kelom geulis pertama di kota bandung. Dulu toko itu juga pembawa tren perkembangan kelom geulis.

Nama toko itu memakai nama sang pendiri, Keng, yang juga kakek dari Yamin.
Toko Keng berada di Jalan Cilampelas no 205, yang keberadaanya dikenali dengan papan merah bertuliskan Kelom Geulis Keng. Tuanya toko itu juga dapat dilihat dari sosok bangunan yang ditempatinya.

“Dulu kita buka toko di Pecinan Lama di daerah Pasar Baru, tapi karena lama-kelamaan jalanan penuh karena banyak pedagang kaki lima, mobil pengunjung juga sulit parkir, jadi kita pindah ke rumah di Cihampelas,” papar Yamin ketika ditemui di tokonya.

Saat masuki ke toko tersebut, setiap pengungung akan disambut dengan senyum ramah penjualnya. Puluhan pasang kelom geulis yang dipajang seperti menunggu untuk dicoba.

Tinggal pilih, kelom seperti apa yang anda inginkan. Jangan khawatir ketinggalan zaman karena model kelom di toko itu juga ikut berkembang menyesuaikan tren yang sedang in.

Kelom geulis terbuat dari kayu mahoni dan kulit untuk atasnya. Agar tidak berat dipilihlah kayu mahoni yang umurnya tidak terlalu tua. Proses pembuatan kelom dari balok kayu sampai berbentu kelom memakan waktu satu bulan. Setelah itu, ada proses penambahan ukiran dan lukisan yang rumit.

Tidak heran apabila harga yang dipatok juga sebanding dengan proses pengerjaannya.

Harga yang ditawarkan di sini mulai dari seratus ribu sampai duaratus ribu rupiah, bergantung pada tinggi hak kelom tersebut, tiga cm sampai 15 cm. Untuk itu Yamin membidik kelas ekonomi menengah ke atas sebagai target pasarnya.

Menurut Yamin, pembelinya juga berasal dari berbagai generasi dan berbagai daerah.
Seperti Ayu (25), gadis asal Jakarta, mengaku mengenal kelom geulis dari neneknya.

“Dulu taunya dari mamah, mamah dari nenek, ini udah keempat kalinya ke sini,” ungkap Ayu.

Ia juga mengaku senang menggunakan kelom tersebut karena walaupun terbuat dari kayu tetapi enteng, nyaman dipakai dan tahan lama. Modelnya pun tidak ketinggalan jaman karena selalu menyesuaikan dengan perkembangan mode.

Kelom geulis juga menyediakan kelom dengan berbagai ukuran dan model.

“Karena kami memproduksi berbagai macam jenis model, sesuai dengan desain, tinggi hak dan ukuran, jadi tidak semua kelom kami pajang. Kalau dipasang semua tidak akan muat,” kata Yamin.

Pertama pembeli menentukan nomor kelom yang akan dipakai terlebih dahulu, lalu tentukan tinggi haknya dan model. Setelah itu baru dipasangkan kulit di atasnya.

Apabila ada yang tidak sesuai anda bisa meminta penjual untuk menyesuaikannya.

Artis dari Bandung seperti Rika Roeslan pun membeli kelom nya di sini. “Sekali beli bisa 15 pasang, karena dia kakinya kecil jadi susah carinya, kebetulan di sini juga menyediakan ukuran yang sesuai,” kata Yamin.

Keistimewaan kelom geulis Toko Keng ini adalah, jika kelom atau pun solnya rusak anda dapat membawanya kembali ke toko tersebut untuk diperbaiki secara cuma-cuma.

Kelom geulis yang asli dari Toko Keng ditandai dengan cap KENG yang bertuliskan “Perusahaan Kelom Geulis KENG made in Indonesia”.

Kelom geulis mengalami masa kejayaannya pada 1960-1980an. Pada masa tersebut Toko Keng melayani pembelian sampai ke luar negeri. Negara tujuan ekspornya seperti Singapura dan Belanda.

“Anak muda sekarang gengsi memakai produk buatan dalam negeri, padahal produk dalam negeri juga bisa bersaing, mutunya juga tidak kalah bagus,” tutur Yamin.

Ia juga merasa sedih ketika ada pembeli yang bertanya apakah cap KENG bisa dihapus atau tidak.

“Orang-orang malu kalau menggunakan produk yang ada capnya Indonesia. Padahal ini juga salah satu ciri khas kebudayaan Indosia, mengapa mereka harus malu? Kalau memakai produk atau merk luar negeri baru bangga, padahal itu juga buatan pabrik Indonesia,” katanya.

(Diah Ayu P)


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026