Garut, 25/1 (ANTARA) - Terjangan angin puting beliung di kecamatan Kadungora kabupaten Garut, Sabtu sore (23/1), mengakibatkan kerugian bagi masyarakat setempat mencapai Rp1.047.400.000, karena sebanyak 514 rumah mengalami kerusakan.
Terdiri 69 unit rumah rusak berat termasuk sekurangnya enam rumah hancur, disusul 23 unit rumah rusak sedang serta 432 rumah rusak ringan, juga terdapat lima warga luka berat dan tiga penduduk lainnya luka ringan, katap camat Kadungora, Dadang Purwana, Senin.

Kerusakan rumah penduduk akibat terjangan angin puting beliung disertai hujan deras itu, terdapat pada delapan desa terdiri desa Hegarsari, Kadungora, Gandamekar, Talagasari, Cisaat, Cikembulan, Neglasari serta desa Karangmulya, katanya.

Namun kerusakan terparah terjadi di desa Karangmulya, sehingga sekitar 935 penduduk dari 187 kepala keluarga (KK) di desa tersebut, memerlukan bantuan sembilan bahan pokok (Sembako), menyusul 187 rumah mereka rusak diterjang angin puting beliung.

Sejak rumah mereka diterjang angin puting beliung yang disertai hujan deras tersebut, hingga kini masih banyak yang mengungsi ke rumah saudara dan kerabat terdekatnya masing-masing, karena masih trauma serta takut terjadi angin puting beliung susulan.

Di desa ini terdapat 133 rumah rusak ringan, 32 rusak sedang serta 22 unit rumah rusak berat, bahkan tiga warga kampung Cilageni mengalami luka berat akibat tertimpa reruntuhan rumahnya, sehingga penghuninya masih mengalami trauma.

Pasokan bantuan sembako yang pertama kali tiba dari Dinsosnakertrans Garut, berupa 15 karung beras masing-masing seberat 15 kg, 30 dus mie instan serta 45 paket/kantong plastik peralatan kesehatan, sedangkan di desa Karangmulya pun terdapat sekitar 935 penduduk dari 187 kepala keluarga (KK) korban bencana.

Sehingga saat ini, yang sangat mendesak diperlukan dan memerlukan prioritas penanganannya, yakni pasokan sembako yang memadai jumlahnya, meski pasokan bantuan berikutnya atau kedua kalinya telah tiba di kantor kecamatan, namun masih memerlukan banyak tambahan pasokannya lagi, ungkap Dadang Purwana.

Sebelumnya Ketua DPRD Garut, Ahmad Bajuri, SE menyesalkan masih minimnya pasokan bantuan berupa sembilan bahan pokok (sembako) bagi korban bencana angin puting beliung di kecamatan Kadungora.

Dia mengemukakan, kondisi tersebut akibat Pemkab setempat masih terjebak tataran birokrasi yang kerap berbelat-belit, padahal proses pemenuhan kebutuhan sembako semestinya yang paling diprioritaskan oleh kalangan eksekutif, tegasnya saat ditemui ANTARA di Posko bencana desa Karangmulya.

Sedangkan kelemahan kabupaten Garut selama ini, dalam upaya penanggulangan bencana termasuk pelaksanaan tanggap darurat, berupa masih mengandalkan kelembagaan "Satuan Pelaksana" (Satlak) padahal semestinya sejak dahulu telah membentuk Badan "Penanggulangan Bencana" (PBP), katanya.

Maka dengan hanya mengandalkan lembaga "Satlak", dipastikan kewenangan serta ruang lingkupnya pun sangat sempit, atau tak seperti kelembagaan BPB yang bisa menganggarkan kebutuhan sendiri termasuk menyediakan persediaan sembako yang memadai untuk mememenuhi setiap pelaksanaan tanggap darurat.

***3***


John D Hidayat
(U.PK-HT/B/A033/A033) 25-01-2010 13:03:29


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026