Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Garut, H Budiman, Senin, mengatakan, kini daerah nya menjajaki pengembangan energi terbarukan program "biogas rumah" (Biru), berkonsepkan "mengubah limbah menjadi berkah".
Di Garut terdapat sekurangnya 15.297 populasi sapi perah dan 11.633 ekor sapi potong dengan luas lahan penggembalaan mencapai 2.651,65 hektare lebih, sehingga sangat potensial dikembangkan program Biru, katanya saat di temui di ruang kerjanya, Senin.
Kendati populasi sapi setiap tahun cenderung mengalami peningkatan, namun tingkat kepemilikan masyarakat terhadap jenis ternak tersebut, masih sangat minimalis.
Akan tetapi program yang digagas Kedubes Belanda di Indonesia itu, hanya dengan 3-4 ekor sapi bisa memasok reaktor biogas volume 6 m3, yang dapat digunakan selama enam jam dengan biaya konstruksi Rp6,5 juta.
Menggunakan desain reaktor kubah beton di bawah tanah sehingga tak makan tempat di permukaan, selama ini banyak dibangun di Nepal karena bisa bertahan selama 20 tahun lebih, kemudian produk biogas nya dialirkan ke kompor di rumah penduduk dengan instalasi perpipaan, katanya.
Program ini juga menawarkan volume reaktor 4, 6, 8, 10 dan 12 m3, konsultan nya dari people unlimited "Hivos" akan memberikan subsidi Rp2 juta untuk konstruksi, agar menarik peternak berinvestasi mengkonstruksi reaktor biogas.
Diingatkan, berkurangnya kayu dan semakin mahal nya harga minyak tanah serta belum sepenuh nya tuntas pelaksanaan program konversi minyak tanah ke kompor tabung gas elfiji berkapasitas 3kg, biogas merupakan salah satu pilihan energi terbarukan yang berpotensi untuk dikembangkan.
Bahkan pemerintah Belanda dengan program bantuan nya, menginvestasikan 500 juta euro bagi pengembangan energi terbarukan di seluruh dunia.
Hivos mendukung perusahaan konstruksi yang dilibatkan, dengan mengadakan pelatihan perkerja konstruksi agar bisa membangun reaktor kubah beton berkualitas dan tahan lama, selama ini pelatihan telah diberikan pada 54 tenaga konstruksi.
Sedangkan pilot projec pengembangan program Biru, akan dilaksanakan di kecamatan Bayongbong yang diharapkan bisa terus berkembang ke kecamatan lain, karena biogas yang ada selama ini hanya ditampung pada kantong plastik sehingga terlihat sangat fulgar, kata Budiman bernada seleroh.***3***
John Doddy Hidayat
(U.PK-HT/B/M019/M019) 07-12-2009 11:42:13
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.