Dari dapur produksi lokal di Bandung, UMKM kuliner Rasa Juara Indonesia kini berhasil menembus pasar ekspor ke Malaysia, Filipina, dan Singapura dengan mengangkat cita rasa kuliner khas daerah dalam bentuk kemasan.
CEO Rasa Juara Indonesia, Christ Abraham, di Bandung, Rabu, mengatakan bahwa perkembangan usahanya sangat ditentukan oleh kemampuan membaca data penjualan yang dihasilkan dari platform digital.
“Dari data terlihat daerah mana yang banyak pembeli, lalu kami masuk ke sana,” ujarnya.
Ia menuturkan, sebelum berkembang seperti saat ini, strategi tersebut berawal dari uji pasar pada 2018 untuk melihat respons konsumen terhadap produk yang ditawarkan secara online.
Perjalanan ekspansi tersebut kemudian terus berkembang dengan pemanfaatan e-commerce, khususnya Shopee, serta strategi berbasis data digital untuk membaca arah pasar dan memperluas jangkauan distribusi.
“Awalnya kami hanya ingin mengetes pasar, ada yang beli atau tidak. Ternyata ada marketnya,” katanya.
Perubahan besar terjadi saat pandemi COVID-19 pada 2020, ketika aktivitas belanja masyarakat beralih ke platform digital. Lonjakan transaksi dari e-commerce menjadi titik balik pertumbuhan usaha yang semakin agresif, meskipun penjualan ritel tetap berjalan berdampingan.
“Online dan offline itu saling melengkapi, tidak bisa berdiri sendiri,” ujar Christ.
Dari titik itu, Rasa Juara Indonesia mulai memperluas jangkauan distribusi secara signifikan. Saat ini, perusahaan mencatat produksi sekitar 4.000 hingga 5.000 kemasan per hari dan menjangkau hampir 5.000 titik distribusi di berbagai daerah di Indonesia, sekaligus mulai menembus pasar luar negeri.
Produk yang dipasarkan juga mengangkat kuliner lokal dalam bentuk kemasan, seperti batagor, cuanki, dan seblak instan, yang menjadi salah satu daya tarik utama di pasar domestik maupun ekspor.
Ekspansi tersebut diperkuat oleh pemanfaatan Shopee sebagai salah satu kanal utama penjualan, yang turut membuka akses ke pasar internasional.
Menurut Christ, kunci utama pertumbuhan bukan hanya pada volume produksi, tetapi pada kemampuan membaca perilaku konsumen melalui data digital.
Saat ini, operasional perusahaan didukung sekitar 35 tenaga kerja produksi dengan total sekitar 40 karyawan termasuk di Surabaya, serta melibatkan sedikitnya 15 UMKM mitra dalam rantai pasok dan pengembangan produk.
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2026