Bandung (ANTARA) - Anggota DPRD Jawa Barat Komisi V Humairah Zahrotun Noor menyebut penguatan peran pelaku UMKM menjadi salah satu strategi dalam menekan laju sampah plastik melalui inovasi produk dan kemasan ramah lingkungan.

Humairah dalam keterangannya di Bandung, Rabu, menilai persoalan sampah tidak bisa terus diselesaikan dengan pendekatan hilir semata, melainkan harus dimulai dari perubahan pola produksi dan konsumsi masyarakat.

“Harapan saya, UMKM terus berinovasi untuk mengurangi sampah plastik, sehingga kita bisa menekan persoalan dari hulu tanpa membebani anggaran besar untuk pengelolaannya,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas pengelolaan sampah di setiap daerah justru berpotensi membebani anggaran tanpa menyentuh akar persoalan sehingga langkah preventif melalui pengurangan penggunaan plastik dinilai lebih efektif dan berkelanjutan.

Humairah mencontohkan praktik di negara maju sebagai gambaran bagaimana budaya pengelolaan sampah dapat dibentuk dari kebiasaan sehari-hari. 

Di negara tersebut, keterbatasan tempat sampah membuat masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dan cenderung memilih produk yang bisa didaur ulang.

“Di negara maju itu mereka tidak mudah membuang sampah, dan kita tidak bisa menitipkan sampah ke warung atau ke mana pun. Jadi, mereka cenderung memilih produk yang bisa didaur ulang,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga sebagai fondasi utama pengelolaan yang efektif sehingga pemisahan antara sampah organik dan non-organik, proses daur ulang dinilai akan lebih mudah dan terarah.

“Kalau dari rumah tangga sudah bisa memilah sampah organik dan non-organik, kita punya pengelolaan sampah, tidak akan pusing mana yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak,” ujarnya.

Humairah juga mengingatkan bahwa persoalan sampah plastik akan terus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah jika tidak ada kesadaran bersama. 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Ruli Hardiana, mendorong seluruh elemen masyarakat untuk menerapkan prinsip zero waste melalui skema Reuse, Reduce, dan Recycle (3R). 

“Sampah makanan di rumah tangga itu harus hilang. Kalau yang organik hilang, tinggal anorganik yang sebenarnya punya nilai ekonomi. Masyarakat jangan selalu mengandalkan Sarimukti. Mindset-nya jangan lagi ‘membuang’ sampah, tapi ‘mengolah’ sampah,” jelasnya.

Ruli juga meminta pemerintah kewilayahan hingga tingkat RW untuk memastikan pengolahan sampah selesai di lingkungan masing-masing sehingga sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir TPA Sarimukti hanyalah residu akhir.

Dirinya menegaskan bahwa kemandirian daerah dalam pengelolaan sampah menjadi keharusan di tengah keterbatasan kuota pembuangan.



Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026