Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Jawa Barat, mulai memfungsikan Gedung Bundar sebagai ruang publik untuk mendukung aktivitas seni, budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif lokal.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon Agus Sukmanjaya di Cirebon, Sabtu, mengatakan pemanfaatan Gedung Bundar menjadi salah satu solusi atas terbatasnya ruang terbuka yang bisa diakses oleh masyarakat.
“Salah satu kekurangan di Kota Cirebon adalah minimnya ruang publik yang bisa digunakan siapa saja. Gedung Bundar ini kami coba aktifkan karena punya nilai historis dan berada dalam pengelolaan Disbudpar,” katanya.
Ia menjelaskan konsep yang ditawarkan bersifat inklusif dan sederhana, dengan mengedepankan kenyamanan serta keterlibatan masyarakat, termasuk pelaku seni dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Menurut dia, ruang tersebut menjadi tempat tampil bagi pelaku seni, UMKM, hingga masyarakat umum yang ingin belajar atau menunjukkan bakatnya di bidang seni pertunjukan.
“Masyarakat bisa datang, pelaku seni bisa tampil, bahkan penonton yang punya bakat bisa ikut berpartisipasi,” ujarnya.
Ia menuturkan sejumlah komunitas lokal juga dilibatkan dalam pengelolaan kegiatan di Gedung Bundar, seperti komunitas Kopi Vespa dan Yayasan Saung Langit yang mengelola area UMKM dan program acara.
Sejak pekan pertama Juli 2025, pihaknya telah menggelar beberapa kegiatan sebagai tahap awal untuk melihat respons masyarakat terhadap pemanfaatan ruang tersebut.
“Alhamdulillah, masyarakat terlihat nyaman duduk lama, menikmati suasana, dan berbelanja kuliner lokal yang tersedia,” katanya.
Ia menyampaikan kegiatan bernama Festival Purnama akan kembali digelar di lokasi itu, sebagai upaya memperkuat Gedung Bundar sebagai pusat kegiatan seni, budaya serta ekonomi kreatif.
“Insyaallah Agustus 2025 nanti kami rencanakan kegiatan rutin setiap sore hingga malam. Ini juga menjadi laboratorium ekonomi kreatif bagi komunitas lokal,” tuturnya.
Agus mengatakan kegiatan yang digelar tidak menggunakan anggaran dari APBD, melainkan swadaya, sebagai bentuk kemandirian komunitas dalam mengelola ruang publik.
“Kami ingin teman-teman komunitas belajar mengelola acara, mengembangkan usaha, sekaligus membangun jejaring,” tuturnya.
Ia juga berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, instansi vertikal, serta BUMN untuk mendukung perbaikan fasilitas di kawasan tersebut.
“Kami punya cagar budaya yang belum tertata dengan baik. Kami berharap ada intervensi agar fasilitasnya layak sebagai ruang publik,” katanya.
Agus optimistis Gedung Bundar bisa menjadi destinasi alternatif yang menambah daya tarik wisata di Kota Cirebon, khususnya pada malam hari.
“Kalau tamu dari luar kota malam-malam bingung mau ke mana, ini bisa jadi pilihan. Harapannya long of stay wisatawan bisa meningkat,” ucap dia.
Editor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025