ANTARAJAWABARAT.com, 6/12 - Jawa Barat perlu memperkuat tata niaga kopi untuk bisa meningkatkan daya saing di pasar domestik maupun ekspor.

"Potensi produksi kopi Jabar cukup besar termasuk pemasarannya baik domestik maupun ekspor. Namun sejauh ini masih terkendala sertifikasi produk yang membuat produknya tidak bisa langsung ke pasar ekspor," kata Ketua DPD Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jabar, Didiet Arry Suparno di Bandung, Selasa.

Menurut Didiet, selama ini kopi Jawa Barat sudah dikenal dan disukai di pasar Jerman, Italia dan Belanda serta sejumlah negara lainnya. Namun sejauh ini potensi kopi Jabar belum tereksplorasi maksimal di pasar.

Salah satunya karena belum seluruh produk kopi Jabar bersertifikasi. Beberapa kopi di Nusantara yang sudah bersertifikasi antara lain Kopi Bali, Kintamani, Kopi Aceh serta yang lainnya.

"Sertifikasi produk perlu digenjot lagi, sedangkan pasar kopi dunia masih cukup terbuka, terlebih Indonesia memiliki reputasi bagus," katanya.

Potensi itu didukung oleh sebaran tanaman kopi di Jabar yang terus berkembang antara lain di Bandung, Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Sukabumi, Sumedang dan di sejumlah daerah lainnya.

Luasan tanaman kopi di Jabar menurut Didiet saat ini sekitar 20 ribu hektar dengan produktivitas rata-rata enam ton per hektare per musim panen.

Ia menyebutkan, ekspor kopi Jabar cukup besar sekitar 200 ton per tahun. Namun prosesnya tidak dilakukan ekspor langsung, melainkan harus melakui daerah lain seperti melalui Medan atau bahkan melalui Singapura.

"Seperti halnya teh, kopi juga punya potensi besar. Hampir setiap orang suka kopi," katanya.

Ia mengakui penguatan pasar kopi di dalam negeri memang perlu dilakukan untuk bisa menjadi produk utama yang digunakan di dalam negeri. Namun juga perlu untuk memperkuat ekspor karena produknya disukai pasar global.

"Selain ke Eropa juga ke Afrika dan Amerika Selatan," katanya.

Tidak sekedar menggenjot produk kopi, tapi juga memperkuat dukungan untuk sektor lainnya yakni program sertifikasi produk serta melakukan penyeragaman mutu, kualitas dan merek.

"Perlu ada keberpihakan pemerintah untuk budidaya kopi serta pemasarannya yakni lelang kopi untuk meningkatkan tata niaga kopi baik dari hulu hingga hilir," kata Didiet Arie Suparno menambahkan.***5***

Pewarta:

Editor : Syarif Abdullah


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2011