Garut, 20/11 (ANTARA) - Bupati Garut Aceng H.M Fikri, hampir sepanjang Kamis melakukan "inspeksi mendadak" (sidak) ke bebarapa lokasi penjualan hewan qurban di daerah nya.
Bupati didampingi aparat dari institusi teknis terkait seperti Dinas Peternakan setempat, untuk memastikan beberapa jenis hewan qurban tersebut berkondisi sehat, atau telah memiliki sertifikasi dari instansi teknis setempat, katanya saat ditemui.
Bupati juga mengingatkan, agar para bandar maupun penjual ternak itu mematahui peraturan yang berlaku, antara lain memasarkan komoditi nya dalam kondisi sehat dan bugar termasuk memenuhi syarat usia hewan yang bisa disembelih.
Sedangkan mengenai penentuan harga, hendaknya dilaksanakan secara wajar meski tergantung pada transaksi antar penjual dan pihak pembeli, imbuhnya.
Kendati hendak nya lebih baik jika usaha menjual hewan qurban ini, dilandasi niat beribadah atau tak hanya untuk meraih keuntungan yang sangat berlebihan, tegas bupati di hadapan beberapa penjual pada beberapa lokasi berbeda.
Sementara itu proses penjualan hewan qurban berupa sapi dan kambing menjelang lebaran Idul Adha 1430 Hjriah, semakin marak berlangsung pada beberapa lokasi di kota Garut dan sekitar nya.
Aep(45), yang membawa 20 ekor sapi jenis brahma dan jongol dari Jawa Timur menggelar penjualan nya di kampung Tenjolaya Garut mulai tiga pekan lalu, dengan harga berkisar Rp8,5 juta hingga Rp9,5 juta per ekor.
Seekor sapi yang ditawarkan dengan harga Rp9,5 juta tersebut, memiliki daging seberat 1,2 kuintal atau belum termasuk berat "jeroan" (usus) dan tulang-belulang nya. Sedangkan seekor sapi dengan harga Rp8,5 juta, beratnya lebih ringan meski dipastikan seluruh komoditi nya itu berkondisi sehat, katanya. Beberapa pedagang yang mulai menyediakan belasan ekor kambing/domba, menawarkan harga penjualan nya Rp 500 ribu hingga mencapai Rp1,2 juta setiap ekor.
Bahkan terdapat jenis domba Garut, yang berkondisi sehat dan kekar ditawarkan Rp3 juta, sebagaimana diungkapkan pedagangnya, Udin(46) di lokasi ruas Jl. Merdeka Garut.
Namun sebagian besar para penjual tersebut, mengaku komoditinya itu bukan miliknya sendiri melainkan milik bandar atau warga yang menitipkan untuk dipasarkan, dengan prosentasi sebesar 10 persen dari harga yang ditentukan pemilik.
Sehingga jika terdapat pembeli yang membayar dengan harga mahal atau diatas harga yang ditentukan, maka selain mendapatkan bagian 10 persen juga kelebihan nilai harga bisa langsung menjadi miliknya, ungkap Aep serta Udin saat mereka ditemui terpisah.
Para penjual ternak untuk ibadah qurban itu, siang malam berada di lokasi penjualan termasuk tidurnya pun nyaris berdampingan dengan tenda yang menutupi puluhan sapi.
Meski kondisinya bau dan banyak nyamuk, terutama pada sepanjang malam, namun profesinya ini tetap dijalani untuk mendapatkan keuntungan uang, yang bisa dimanfaatkan kebutuhan pokok keluarga di rumah, ungkap Aep serta Udin menambahkan. ***2***
John Doddy Hidayat
(U.PK-HT/B/J006/B/J006) 20-11-2009 00:09:01
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2009
Bupati didampingi aparat dari institusi teknis terkait seperti Dinas Peternakan setempat, untuk memastikan beberapa jenis hewan qurban tersebut berkondisi sehat, atau telah memiliki sertifikasi dari instansi teknis setempat, katanya saat ditemui.
Bupati juga mengingatkan, agar para bandar maupun penjual ternak itu mematahui peraturan yang berlaku, antara lain memasarkan komoditi nya dalam kondisi sehat dan bugar termasuk memenuhi syarat usia hewan yang bisa disembelih.
Sedangkan mengenai penentuan harga, hendaknya dilaksanakan secara wajar meski tergantung pada transaksi antar penjual dan pihak pembeli, imbuhnya.
Kendati hendak nya lebih baik jika usaha menjual hewan qurban ini, dilandasi niat beribadah atau tak hanya untuk meraih keuntungan yang sangat berlebihan, tegas bupati di hadapan beberapa penjual pada beberapa lokasi berbeda.
Sementara itu proses penjualan hewan qurban berupa sapi dan kambing menjelang lebaran Idul Adha 1430 Hjriah, semakin marak berlangsung pada beberapa lokasi di kota Garut dan sekitar nya.
Aep(45), yang membawa 20 ekor sapi jenis brahma dan jongol dari Jawa Timur menggelar penjualan nya di kampung Tenjolaya Garut mulai tiga pekan lalu, dengan harga berkisar Rp8,5 juta hingga Rp9,5 juta per ekor.
Seekor sapi yang ditawarkan dengan harga Rp9,5 juta tersebut, memiliki daging seberat 1,2 kuintal atau belum termasuk berat "jeroan" (usus) dan tulang-belulang nya. Sedangkan seekor sapi dengan harga Rp8,5 juta, beratnya lebih ringan meski dipastikan seluruh komoditi nya itu berkondisi sehat, katanya. Beberapa pedagang yang mulai menyediakan belasan ekor kambing/domba, menawarkan harga penjualan nya Rp 500 ribu hingga mencapai Rp1,2 juta setiap ekor.
Bahkan terdapat jenis domba Garut, yang berkondisi sehat dan kekar ditawarkan Rp3 juta, sebagaimana diungkapkan pedagangnya, Udin(46) di lokasi ruas Jl. Merdeka Garut.
Namun sebagian besar para penjual tersebut, mengaku komoditinya itu bukan miliknya sendiri melainkan milik bandar atau warga yang menitipkan untuk dipasarkan, dengan prosentasi sebesar 10 persen dari harga yang ditentukan pemilik.
Sehingga jika terdapat pembeli yang membayar dengan harga mahal atau diatas harga yang ditentukan, maka selain mendapatkan bagian 10 persen juga kelebihan nilai harga bisa langsung menjadi miliknya, ungkap Aep serta Udin saat mereka ditemui terpisah.
Para penjual ternak untuk ibadah qurban itu, siang malam berada di lokasi penjualan termasuk tidurnya pun nyaris berdampingan dengan tenda yang menutupi puluhan sapi.
Meski kondisinya bau dan banyak nyamuk, terutama pada sepanjang malam, namun profesinya ini tetap dijalani untuk mendapatkan keuntungan uang, yang bisa dimanfaatkan kebutuhan pokok keluarga di rumah, ungkap Aep serta Udin menambahkan. ***2***
John Doddy Hidayat
(U.PK-HT/B/J006/B/J006) 20-11-2009 00:09:01
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2009