Antarajabar.com - Maraknya "Delivery Order" (DO) gas elpiji 3 kilogram "bodong" dan pangkalan tanpa izin, Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Cianjur, Jawa Barat, lakukan validasi data jumlah agen dan pangkalan elpiji 3 kilogram.
        
Kepala Diskoperindag Cianjur, Himam Haris, di Cianjur, Selasa, mengatakan pihaknya mendapat laporan ada penambahan agen dan pangkalan, namun belum mengetahui pasti berapa jumlah penambahan tersebut karena pihak dinas mencatat 22 agen elpiji yang ada di Cianjur, tapi di lapangan saat ini ada 26 agen.
        
"Kalau agen bertambah otomatis ada penambahan kuota elpiji 3 kilogram. Data kuota gas melon yang dimiliki Diskoperindag ada 48.791 metrix ton atau sekitar 1.355.305 tabung per bulan yang diperuntukan bagi 22 agen elpiji. Kalau benar ada 26 agen, berarti ada penambahan kuota, sehingga akan dilakukan pengecekan di lapangan," katanya.
        
Bertambahnya agen yang belum terdata tersebut, ungkap dia, akan berdampak terjadinya penyalahgunaan seperti penimbunan dan pendistribusian ke sejumlah industri dan peternakan besar."Termasuk dikhawatirkan akan memicu terjadinya kelangkaan dan mahalnya harga gas bersubsidi di tingkat eceran," katanya.
        
Bahkan pihaknya meminta DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Cianjur, segera memberikan data jumlah agen dan kuota jika ada penambahan, hal tersebut agar pemerintah dapat mengawasi pendistribusian gas melon agar tepat sasaran.
        
"Menjelang Ramadan, kami khawatir gas bersubsidi menjadi mahal karena terjadi lonjakan permintaan dari warga. Kebutuhan elpiji 3 kilogram sebanyak 1.355.305 tabung per bulan sangat mencukupi kebutuhan warga dan industri mikro. Pemerintah tidak menambah kuota pada 2017 karena sudah sangat mencukupi dan melimpah," katanya.
        
Dia menambahkan, tahun 2015, kuota gas bersubsidi sebanyak 1.251.277 tabung atau sekitar 45.046 MT per bulan, ditambah 8 persen menjadi 48.791 MT atau 1.355.305 tabung per bulan untuk 22 agen. Sehingga sangat mustahil jika gas bersubsidi sulit untuk didapatkan atau langka.          
  
"HET sudah diatur pemerintah Rp 14.500 di tingkat agen dan Rp 16 ribu per tabung di tingkat pangkalan. Sehingga pengecer dapat menjual gas bersubsidi diangka Rp 19 ribu sampai Rp 20 ribu per tabung," katanya.
        
Wakil Ketua Bidang Elpiji DPC Hiswana Migas Cianjur, Sulistio, mengatakan ada penambahan jumlah agen secara bertahap di Cianjur tahun 2017 yang semula hanya 22 agen bertambah menjadi 26 agen."Bertambahnya agen tentu menambah kuota, dari 1,3 juta menjadi 1,5 juta tabung per bulan, namun kami belum dapat memerinci," katanya.
    



Pewarta: Ahmad Fikri
: Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026