Meski kini tampil percaya diri, Amorim tak menampik bahwa musim lalu meninggalkan bekas psikologis yang mendalam. Ia mengaku kerap berangkat ke Old Trafford dengan perasaan waswas.

“Bagian tersulit bukan saat saya pulang ke rumah setelah kalah. Justru saat berangkat ke pertandingan, karena saya tahu kami akan kesulitan,” ucapnya jujur.

Ia bahkan merasa dirinya mengecewakan banyak orang, termasuk staf dan para pendukung. Namun pengalaman itu menjadi titik balik dalam karier manajerialnya.

“Sekarang saya lebih tenang, lebih bersemangat. Saya belajar untuk tidak terlalu romantis. Kami akan menjadi tim yang lebih baik, dan saya juga akan menjadi manajer yang lebih baik,” tuturnya.

Perubahan budaya juga mencakup keputusan-keputusan tegas. Salah satunya adalah tidak membawa Alejandro Garnacho, Jadon Sancho, Tyrell Malacia, dan Antony dalam tur pramusim. Amorim menyebut beberapa pemain tersebut menunjukkan keinginan untuk mencari tantangan baru.

“Bukan soal siapa yang baik dan siapa yang buruk. Mereka hanya ingin hal yang berbeda. Jika nanti mereka tetap di sini setelah bursa transfer ditutup, kami akan memperlakukan mereka dengan adil. Tapi saat ini, saya fokus pada pemain yang akan bertahan,” ujarnya.

Terkait Garnacho, Amorim menyebut pemain muda Argentina itu sangat berbakat, tetapi ia merasakan ketidakcocokan secara kepemimpinan. “Saya rasa dia menginginkan sesuatu yang berbeda. Itu normal dalam sepak bola,” katanya diplomatis.

Dengan absennya kompetisi Eropa musim ini, Amorim menginginkan skuat yang ramping dan efisien. Ia tak menutup pintu untuk pemain baru, tetapi menegaskan bahwa kualitas karakter dan kecocokan dengan filosofi klub menjadi prioritas utama.

“Jika ada pemain yang datang, dia harus melalui proses yang sama seperti Bryan dan Cunha," kata Amorim.



Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026